Rabu, 26 Desember 2018

Bencana dan Kegoblokan Berjamaah

Tsunami
Tsunami banten
Mungkin judul di atas terlalu vulgar dan kasar, tapi itulah yang terjadi.

Sejak bencana terjadi di Indonesia berulang-ulang, entah kenapa kita seperti ditontonkan kebodohan-kebodohan dalam bentuk cocoklogi yang menghubungan bencana dengan azab Tuhan.

Dan yang terkena azab bagi mereka tentu adalah model yang tidak sesuai dengan apa yang mereka pikirkan. Mulai dari musisi yang dibilang muazin setan dan membuat Tuhan tidak berkenan, sampai disambungkan ke kunjungan Presiden segala.

Ayat dan hadis pun bertebaran dengan tafsiran pembenaran. Masih ditambah dengan gambar munculnya awan berbentuk nama Tuhan yang mereka gambarkan sebagai bentuk penunjukan kekuasaan.

Sudah sejak lama virus "gila agama" menjangkiti bangsa Indonesia. Pembodohan-pembodohan melalui agama dipompakan ke otak-otak para manusia instan yang merasa dengan agama mereka sontak menjadi manusia bersih tanpa dosa.

"Guru-guru agama" melarang umatnya memakai akal untuk mengontrol mereka sesuai dengan keinginan. Yang terjadi akhirnya berkembanglah generasi tanpa harapan, sibuk bicara surga neraka tanpa pernah bersentuhan dengan keilmuan.

Lihatlah bencana tsunami di Palu dan Banten yang datang tanpa peringatan awal dan akhirnya memakan korban ratusan bahkan ribuan orang.

Datangnya tsunami tanpa peringatan ini bukan karena Tuhan marah, tetapi karena alam sedang bekerja. Manusialah yang tinggal di dekat tempat "kerja alam" sehingga menjadi korban.

Manusia berupaya memasang alat deteksi dini tsunami yang bernama Early Warning System atau EWS di sepanjang dinding pantai. Tapi banyak alat itu yang rusak, tidak berfungsi bahkan lebih gilanya lagi dicuri oleh manusia juga.

Dan ketika alat deteksi tidak berfungsi, yang disalahkan siapa lagi kalau bukan Jokowi, eh sorry, Tuhan....

Kebodohan berjamaah karena mabuk agama di Indonesia ini mirip dengan situasi di Eropa abad pertengahan. Dimana gereja-gereja pada masa lalu selalu memakai nama Tuhan sebagai sebab dari akibat yang manusia rasakan. Dan percaya atau tidak, pihak gereja dulu melakukan itu sebagai bagian dari kontrol kekuasaan.

Sudah saatnya Indonesia merombak sistem pendidikannya sehingga manusia bisa berpikir dengan sehat berdasarkan keilmuan, bukan lagi dengan ilmu agama berdasarkan penafsiran dan pendapat ahli masa silam. Karena dalam perkembangan teknologi, diperlukan penafsiran-penafsiran yang bisa sesuai dengan zaman.

Bukan seperti sekarang. Dimana ada seorang Calon Presiden yang karena nafsunya, bahkan dengan tega memindahkan negara Haiti yang berada di Amerika tengah, mendadak ada di benua Afrika.

"Siapa dia, Bang?"

"Capres Haiti Hulae Hulo Salam...."

Seruput.

Tagar.Id