Senin, 31 Desember 2018

GUS DUR, IN MEMORIAM


Bapak Toleran
Gus Dur dan Pancasila
Malam di tanggal ini, 30 Desember 2009, saya kebetulan sedang ada di Medan.

Saya duduk di depan televisi dan datanglah berita yang mengejutkan. "Gus Dur seorang tokoh bangsa dan mantan Presiden Republik Indonesia meninggal dunia. Jenazah akan dimakamkan.. " kalimat selanjutnya dari pembaca berita mulai menghilang dari pendengaran.

Yang muncul adalah ketawa kekeh dari seorang yang saya kagumi sejak kemunculannya. "DPR itu seperti taman kanak-kanak.."

Baru itu saya mendengar sebuah cetusan lugas dan jujur dari seorang tokoh yang membuat saya tertawa terbahak. Kata itu sebenarnya sudah ada di benak, tetapi hanya Gus Dur yang mempu mengeluarkannya dengan tepat.

Ada kerinduan dari hati kecil saya terhadap sosok seseorang yang bisa bersuara jujur ditengah muaknya saya dengan kemunafikan. Gus Dur adalah mentor imajiner saya dalam mengeluarkan tusukan-tusukan kata yang lembut tapi menikam.

Ia tidak merasa kehilangan apa-apa dengan humornya yang sarat pesan. Baginya, "Kata yang keluar dari lidah, sudah bukan milikku lagi.." Sehingga ia merasa tidak perlu merasa harus menahan apa yang ingin ia sampaikan ketika itu harus disampaikan.

Wajahnya tanpa beban seolah menganggap dunia ini hanya permainan, apalagi hanya sebuah jabatan. Mungkin karena itulah ia dengan ringan melangkah turun dari istana ketika dipaksa untuk meninggalkan.

Bagi sebagian orang ia kalah. Tapi bagi banyak orang Gus Dur lah sejatinya pemenang, karena sampai sekarang mereka tidak mampu keluar dari rasa cintanya sehingga mendekati kuburannya saja air mata sudah tumpah. Dimana bisa didapatkan kemenangan yang begitu indah ?

Kudengar pembaca berita membaca beritanya dengan suara serak. Ia pun tidak mampu menahan kesedihannya. Dan tidak terasa, beban air di kelopak mataku tidak mampu menahan diri untuk tidak jatuh dan meluber seiring dengan kenanganku yang dalam.

Selama puluhan tahun, baru kali inilah air mataku jatuh untuk seorang tokoh bangsa. Gus Dur adalah permata yang hadir dan menyadarkan pikiran untuk, "Bersuaralah. Jangan diam. Karena diam tidak akan pernah merubah keadaan.."

Dan aku, beserta banyak anak ideologisnya, sedang berjuang menyampaikan pikiran-pikirannya dengan apa yang kami bisa.

Al Fatehah, Gus...

Semoga secangkir kopi hangat dan guyonanmu masih tersedia, disaat aku menyusul ke duniamu kelak.