Sabtu, 08 Desember 2018

INI BUKAN LAGI TENTANG PAPUA

Papua
Denny dan warga Papua
Agustus 2017 lalu, saya ke Papua.Tepatnya ke desa Ampas, Keerom, Papua.

Banyak cerita yang menyeramkan yang tujuannya mencegah saya datang kesana. Mulai dari ganasnya Malaria sampai kelompok separatis bersenjata. Tapi karena penasaran, saya kesana juga. Saya belum pernah ke Papua dan ini kesempatan bagus untuk datang dan melihat dengan mata kepala sendiri situasi disana.

Sampai disana, saya banyak mendengar cerita menyedihkan bahkan menyeramkan tentang represi tentara di bumi Papua. Mereka bisa dengan tiba-tiba menyerang sebuah desa, menculik orang yang dicurigai bahkan memukul orang yang tidak disukai. Saya akhirnya paham, kenapa masyarakat Papua begitu trauma terhadap tentara dan mereka tidak ingin menjadi bagian dari Indonesia.

Tetapi itu terjadi di masa orde baru berkuasa. Masa dimana kekerasan adalah senjata.

Indonesia pada waktu itu ibarat seorang lelaki yang memaksa masyarakat Papua kawin dengan cara memperkosa. Tentu dendam turun temurun ditanamkan ke anak cucu mereka. Orang Papua tidak merasa menjadi bagian dari NKRI, mereka berfikir bahwa Papua adalah negara tersendiri.

Di desa Ampas, listrik baru masuk tahun 2016 melalui program panel surya. Bayangkan, itu 71 tahun sesudah Indonesia merdeka.

Selama waktu itu mereka hidup dalam gelap yang bergantung pada sinar bulan dan pelita, botol yang dikasih minyak tanah yang dibeli dengan harga sangat tinggi disana. Mata anak-anak mereka pedih saat belajar. Dan menjelang malam mereka duduk mengobrol diluar dengan tidak bisa melihat teman disampingnya, karena pelita harus dimatikan untuk menghemat minyak.

Saya mendengar betul keceriaan mereka disana yang sudah merasakan adanya listrik dan banyak hal termasuk bensin yang semakin murah.

Seorang bapak, yang saya lupa namanya, bahkan menepuk pundak saya sambil tersenyum, "Sampaikan salam saya kepada bapak Jokowi.."

Saya merasakan ketulusan yang amat sangat, rasa terimakasih yang luar biasa karena mereka sudah tidak menjadi anak tiri lagi sekarang. Bahkan Papua sudah menjadi anak emas dengan pembangunan infrastruktur luar biasa yang difokuskan disana. Di tangan Jokowi Papua berbeda sekarang. Jokowi merangkul dan mengajak Papua tumbuh bersama seperti daerah lainnya.

Jadi, melihat Papua jangan hanya melihat dari kacamata seorang pemberontak bersenjata. Mereka sekarang berperang sudah tidak murni lagi untuk kemerdekaan Papua karena merasa tertindas seperti masa orde baru. Tetapi ada kepentingan dibaliknya dan itu bukan untuk Papua.

Seorang pemberontak waktu diwawancara media Jawa Pos bahkan berkata, "akan mengusir mereka yang non Papua dari tanah ini.." Betapa rasisnya, jauh dari keramahan warga Papua yang saya temui waktu itu. Kebayang genosida yang terjadi akibat pengusiran itu.

Tulisan saya ini pasti akan banyak dikecam dan dibantah oleh mereka yang mengaku aktivis dan pembela HAM itu. Tapi saya tidak akan bergeming.

Mungkin dulu pada masa orde baru saya akan berjuang bersama masyarakat Papua untuk membebaskan diri dari negeri "keluarga" ini. Tapi sekarang ketika negeri ini berubah, saya akan ada dalam satu barisan untuk menjaga Papua. Sebab ini bukan lagi masalah Papua, tetapi sudah menjadi masalah Indonesia..

Karena kita semua bersaudara..

Angkat kopinya.