Kamis, 27 Desember 2018

Natal, Sebuah Pesan Perjuangan

Natal
Kembang Api
Tahun-tahun sebelumnya, beredar perdebatan haram dan halalnya mengucapkan selamat Natal.

Perdebatan ini selalu ada di setiap bulan Desember, di antara umat muslim moderat dan yang fundamental. Masing-masing beradu argumen dengan menampilkan ayat dan hadis. Yang moderat biasanya diwakili ulama NU seperti Gus Mus, sedangkan yang fundamental oleh ulama karbitan seperti Felix Siaw.

Alasan si Islam fundamental yang biasanya condong radikal ini adalah ucapan selamat Natal bagian mengakui kekristenan, sehingga haram mengucapkannya.

Dan yang Kristen pun geleng-geleng kepala melihat perdebatan ini. Mereka semakin apatis melihat nasib Indonesia ke depan, yang berbeda jauh dari nilai toleransi yang mereka alami pada waktu mereka kecil, dimana tidak ada batasan antar agama dalam mengucapkan hari raya masing-masing, bahkan saling berkunjung dan membawa makanan untuk saling menghormati.

Umat Kristen banyak yang tidak paham, bahwa ketika umat Islam moderat mendebat masalah haramnya ucapan selamat Natal yang digaungkan oleh mereka yang fundamental, itu bukan karena yang moderat senang berdebat. Tetapi karena mereka melakukan perlawanan terhadap "hukum-hukum" baru dalam agama di Indonesia yang dibawa kelompok umat pengusung khilafah.

Kelompok pengusung khilafah ini senang sekali membentur-benturkan masalah antar umat beragama dengan berbagai macam pengharaman yang tujuannya adalah supaya antar umat beragama tidak ada kerukunan.

Tetapi tahun 2018 ini sungguh berbeda....

Mendadak viral ucapan selamat Natal dari berbagai pondok pesantren kepada saudara mereka yang beragama Kristen.

Keluarga Besar Pondok Pesantren Subang Sunan Kalijaga, Bantul, Yogyakarta, pun bersama-sama mengucapkan selamat Natal, tanpa peduli hukum "haram" yang digaungkan. Kyai mereka lebih mengerti hukum daripada ustaz-ustaz media sosial.

Begitu juga viral video ucapan selamat Natal dari santriwati di ponpes Ngalah Pasuruan. Dan diakhiri dengan ajakan mempererat persaudaraan antar umat beragama dan bersatu menjaga negeri tercinta.

Pesan-pesan menyejukkan ini sangat berarti di tengah situasi panasnya negeri ini, menjelang Pilpres 2019. Umat Kristen menerimanya sebagai sebuah pesan perdamaian dan membangkitkan harapan bahwa Indonesia tidak semengerikan seperti yang mereka duga sebelumnya. Masih banyak kelompok moderat yang ingin negeri ini tetap berada dalam koridor Bhinneka Tunggal Ika.

Natal kali ini sungguh menyenangkan. Adik-adik kita sudah mulai mengerti bahwa rasa damai itu harus diperjuangkan. Karena jika kita diam, kerusakan yang terjadi akan semakin melebar. Dan kita berjuang supaya negeri ini tidak rusak seperti yang pernah dialami oleh Libya, Afghanistan, Pakistan dan Suriah. Juga tetangga kita di Marawi Filipina sana.

Sejatinya agama itu adalah sebuah petunjuk menuju jalan kebenaran. Biarlah masing-masing umat memegang kebenaran mereka masing-masing, karena kebenaran itu adalah hak prerogatif Tuhan. Yang umat wajib lakukan adalah menjaga hubungan personal antar sesama manusia dengan penuh kasih sayang.

"Mereka yang bukan saudaramu dalam iman, adalah saudaramu dalam kemanusiaan. " Imam Ali bin abu thalib.

Mari seruput kopinya, kawan.

Tagar.Id