Sabtu, 08 Desember 2018

PAPUA, JOKOWI BUKAN SOEHARTO

Papua
Jokowi gendong 2 anak papua
Saya berdiri di sudut ruangan, diantara kerumunan banyaknya orang..

Ditengah-tengah, seorang Jokowi duduk dan bercerita banyak hal. Khususnya tentang Papua..

"Kalian bayangkan.." katanya. "Ada satu desa di Papua yang jika warganya sakit, mereka harus berjalan kaki 4 hari 4 malam lamanya hanya untuk ke Puskesmas. Jangan bayangkan Papua seperti di Jawa yang jalannya mulus beraspal. Jalannya tanah dan ketika hujan becek gak keruan. Bagaimana pasokan makanan bisa sampai sana jika roda truk saja tenggelam ?"

Saya tidak pernah membayangkan seorang Presiden bisa begitu emosional bercerita tentang suatu daerah. Rahangnya terkatup dan mengeras seperti menguatkan dirinya untuk bercerita banyak hal yang dilihat dengan mata kepalanya sendiri sesudah blusukan kesana. Rasanya berat mendengar ceritanya, tidak bisa membayangkan bahwa ditengah gemerlapnya lampu kota ada daerah yang bahkan berobat saja susah.

"Dan di Jakarta, saya harus mengeluarkan uang puluhan miliar rupiah hanya untuk pengamanan sekelompok besar orang yang ingin memaksakan kehendaknya.." Lanjut Jokowi. Saya tahu, itu pasti kejadian saat demo besar menurunkan Ahok beberapa waktu lalu yang membuat pemerintah harus bekerja keras supaya tidak terjadi apa-apa.

"Seandainya dana pengamanan puluhan miliar rupiah itu untuk membangun puskesmas, berapa banyak yang bisa kita bangun. Sungguh sia-sia.." Keluhnya.

Jokowi memang unik. Disaat pemimpin lain mencari citra dengan membangun pulau Jawa karena disana berkumpul media, ia malah melangkah di kesunyian. Ia membangun Papua bukan untuk ego dirinya, tetapi karena nuraninya terusik melihat betapa besarnya ketimpangan di Indonesia. Dan ia berusaha mewujudkan mimpinya untuk menciptakan keadilan sosial bagi seluruh negeri dengan tangan kecil dan tubuh ringkihnya.

Papua, Jokowi bukan Soeharto. Ia tidak ingin menumpuk kekayaan bagi dirinya sendiri. Jika ia mau, ia bisa saja tetap membiarkan rakyat Papua dalam kondisi kebodohan dan kemiskinan luar biasa, supaya bisa diatur dan dikeruk kekayaan alam seenaknya.

Tidak. Ia ingin membayar semua perlakuan keji pemerintah orde baru dulu dengan mengucurkan dana gila-gilaan untuk membangun Papua. Bahkan Papua sekarang sudah mendapat bagian atas kekayaan alamnya. Dalam rencana akuisisi saham PT Freeport, disediakanlah 10 persen pembagian keuntungan untuk dinikmati Papua, sesuatu yang tidak pernah dilakukan oleh pemerintah terdahulu.

Bahkan niat baik saja ada resikonya. Dan melihatnya bicara pada waktu itu, saya melihat tekad seorang lelaki yang sangat kuat untuk memperbaiki kesalahan masa lalu..

"Kita bangun Papua bukan untuk kita. Tetapi untuk anak cucu kita. Papua suatu saat akan menjadi provinsi kaya dimana banyak orang mencari kerja disana... " Jokowi menutup pembicaraan disambut tepuk tangan banyak orang.

Tidak sadar saya pun bertepuk tangan. Saya bukan orang yang mudah memuji seseorang, tetapi baru kali ini muncullah pemimpin yang menaruh kepentingan bangsa diatas segalanya..

Papua, Jokowi bukan Soeharto. Bukalah tangan kalian selebar-lebarnya. Kita kubur masa lalu, kita songsong Papua menjadi daerah kaya. Karena hanya dengan bergandengan kita bisa. Kita saudara sebangsa..

Secangkir kopi untuk kalian disana.