Selasa, 04 Desember 2018

PERANG MEDIA SOSIAL

Media Sosial
Perang Medsos
"Den, Jokowi kalah total di media sosial.."

Begitu komen seseorang di salah satu postingan dan disahuti dengan berbagai komen baik dari yang pro maupun kontra.

Kalah? Saya bingung, darimana dia melakukan pengukuran bahwa tim medsos Jokowi kalah dan tim medsosnya Prabowo menang?

Setelah saya coba searching ternyata berita itu datang dari salah satu lembaga survey dan "pakar" media sosial yang mengukur apa yang terjadi dalam perang di medsos itu melalui twitter.

Kenapa twitter? Karena hanya twitter yang menyediakan data untuk dijadikan patokan. Sedangkan aplikasi medsos lainnya seperti Facebook dan Instagram tidak menyediakan sumber data untuk diteliti. Jadi sekarang ukuran kalah dan menang hanya berdasarkan kumpulan data yang ada di twitter

Padahal kalau berdasarkan ukuran, pengguna twitter di Indonesia jelas kalah banyak dari FB. Pengguna FB di Indonesia sendiri dilaporkan 130 juta akun, sedangkan twitter sendiri hanya 56 juta. Jadi jika di pakai ukuran ini, jelas twitter belum layak disandingkan untuk bertarung dengan FB. Twitter hanya menang dari Instagram yang mencapai 46 juta pengguna di Indonesia.

Apakah ukuran itu bisa dipakai untuk menang atau kalah? Jelas tidak, karena jumlah akun yang terdaftar belum tentu sama dengan jumlah mereka yang aktif.

Dan ketiga media sosial itu tidak ada artinya apa-apa jika disandingkan dengan aplikasi Whatsapp yang sayangnya tidak pernah dipublikasikan berapa penggunanya dari Indonesia tetapi menjadi medsos yang sering dipergunakan dalam berbagai kepentingan.

Jadi ukuran kalah atau menang tidak bisa hanya berdasarkan ukuran di twitter saja tanpa melibatkan platform lainnya.

Kadang yang buat saya ketawa adalah ukuran sukses tidaknya sebuah pesan dilihat dari perang tagar #.

Perangnya adalah bagaimana sebuah pesan itu trending di twitter. Sebagai pengguna medsos lama saya merasa lucu, bagaimana bisa sebuah trending tagar bisa mempengaruhi pemikiran seseorang ? Trending tanpa berdampak apa-apa jelas adalah kesia-siaan. Begitu juga polling, yang lebih banyak robotnya daripada akun aslinya.

Media sosial fungsinya adalah pembentukan opini dan opini itu bisa dilakukan oleh para influencer, atau para penyampai pesan yang berpengaruh. Perang yang nyata di media sosial adalah perang framing opini.

Sebagai contoh saat reuni 212 kelompok Prabowo melakukan propaganda bahwa yang hadir 8 jutaan sedangkan pendukung Jokowi melakukan downgrade dengan jumlah 40 ribuan. Siapa yang benar? Benar menjadi tidak penting ketika propaganda berlangsung, yang penting siapa yang berhasil mempengaruhi pemikiran banyak orang.

Jadi apa ukurannya menang atau kalah di media sosial?

Tidak ada ukuran pastinya, karena ketika berbicara bahwa si A menang dan si B kalah, itupun bagian dari perang propaganda untuk melemahkan lawan.

Orang moderat sekarang jauh lebih militan dari sebelumnya. Mereka yang dulu diam, sekarang berani bersuara sekencang-kencangnya menjadikan media sosial menarik untuk dilihat sebagai kumpulan pikiran dari banyak orang.

Lagian ngapain mikir kalah atau menang ? Perang riil itu di darat bukan di media sosial. Media sosial itu hanya sebagai ukuran apa yang harus disampaikan ketika harus melakukan pendekatan-pendekatan di darat. Dan timses sudah seharusnya mulai melakukan penetrasi ke arah ini.

Jadi kalau memang Prabowo menang di media sosial, ya kita nobatkan saja beliau sebagai Presiden..... di media sosial.

Setuju? Seruput kopi dulu..