Rabu, 09 Januari 2019

Anak-anak Jokowi

Keluarga
Keluarga Jokowi
Salah satu yang saya kagumi dari seorang Jokowi adalah cara dia mendidik anak-anaknya.

Jokowi adalah pengusaha mebel yang bisa dibilang kaya. Hartanya menurut LHKPN senilai 50 miliar rupiah. Sebagian besar harta itu dalam bentuk tanah dan bangunan yang mengalami peningkatan nilai setiap tahunnya. Tahun 2014 harta Jokowi masih di 29 miliar rupiah.

Perhatikan cara dia menginvestasikan pendapatan hasil jualan mebelnya, dalam bentuk tanah yang dalam waktu 4 tahun naik sampai 20 miliar rupiah. Dia pintar memilih lokasi untuk asetnya.

Kepintaran Jokowi dalam berusaha ditularkan ke anak-anaknya. Bukan hanya kepintaran, ia juga mengajarkan kepahitan, perjuangan, kesabaran, dan keuletan sehingga anak-anaknya tumbuh menjadi manusia mandiri.

Jokowi tidak memanjakan mereka. Ia tidak menjanjikan harta warisan ataupun akses nama besar dirinya. Jika mau, saat mulai menjabat sebagai Wali Kota, ia dengan mudah akan memberikan proyek-proyek pemerintahan kepada anak-anaknya seperti yang dilakukan banyak orangtua yang "terlalu cinta" kepada keturunannya.

Tidak. Ia ingin anak-anaknya menjadi orang dan mempunyai nama besar sendiri sebagai kebanggaan atas keringat yang mereka keluarkan. Dan ia berhasil. Semua anak-anaknya mempunyai bisnis sendiri yang malah tidak bersinggungan sedikit pun dengan bisnis mebelnya.

Saya melihat banyak orangtua yang sangat memanjakan anaknya. Belum apa-apa anaknya sudah dikasih mobil bagus untuk kuliah, uang jajan yang gada nomor serinya, dan segala bentuk kemanjaan yang merusak mental mereka. Bahkan sewaktu kerja di pemerintahan, saya banyak bersinggungan dengan anak-anak "Kepala" yang sibuk minta proyek meski mereka tanpa keahlian di bidangnya.

Hasilnya, mereka tumbuh menjadi manusia egois, cengeng, mental penjilat, kasar dan suka berfoya-foya. Ketika bapaknya sudah tidak ada, kerjaan mereka berebut warisan sampai habis apa yang ada.

Keberhasilan Jokowi dalam mendidik anaknya supaya mandiri, ia terapkan juga dalam memimpin negara. Rakyatnya tidak dipenuhi dengan Bantuan Langsung Tunai yang membuat orang lumpuh dan tak bekerja. Ia menggantinya dengan dana desa, sebagai fasilitas untuk menaikkan taraf ekonomi masyarakat supaya bisa bekerja.

Jokowi adalah panutan banyak orang dalam membangun sebuah keluarga. Ia menetapkan pondasi yang kokoh dalam membangun nilai-nilai sehingga tidak tersandera masalah ketika anak-anaknya dewasa.

Jadi, apa yang membuat saya tidak memilih Jokowi sebagai Presiden untuk kedua kalinya? Nilai-nilai dalam keluarganya sudah menjadi patokan bagi saya bahwa ia juga akan sukses membangun negara.

Jokowi mungkin menganut falsafah secangkir kopi, bahwa ada proses panjang sebelum kenikmatan itu terhidang. Dan dalam kehidupan, proses panjang itulah sejatinya kekayaan karena di dalamnya ada kebijaksanaan.

Seruput dulu, kawan.

Tagar.Id