Sabtu, 19 Januari 2019

BAASYIR, TERORIS ITU BEBAS

Abu Bakar Baasyir Solo
 Abu Bakar Baasyir
Sejak Jokowi menjadi Presiden, keputusannya kerap jadi polemik..

Setiap kali berbicara di depan audience, saya selalu ditanya, "Kenapa Jokowi seperti lunak terhadap kaum radikal ya ?"

Saya menjawab, "Jokowi belajar dari kesalahan pemerintah Suriah dalam memerangi radikalisme di negaranya. Presiden Bashar Assad dengan latar belakang militer, dalam menumpas radikalisme, selalu menggunakan kekerasan. Ia memukul, bukan merangkul.

Inilah yang membuat kaum radikalis senang. Mereka memang menanti untuk dipukul. Ketika mereka dipukul, mereka membangun semangat perlawanan besar-besaran. "Revolusi !!" teriak mereka. Dan foto-foto "kekejaman" Bashar menurut versi mereka tersebar di seluruh dunia, dengan bumbu hoax yang sangat tajam baunya.

Dan kita lihat, apa yang terjadi dengan Suriah sekarang..

Pendekatan humanis sudah dilakukan Jokowi lewat Kapolri Tito Karnavian, sejak demo anti Ahok tahun 2016. Polisi bukannya memukul, tapi malah ikut bersama barisan mereka, menjaga mereka supaya tidak anarkis, dan habislah celah mereka untuk membuat hoax kekejaman Jokowi..."

Saya menyeruput kopi sebentar dan melanjutkan..

"Tapi tidak banyak yang tahu, dibelakang itu, Kepolisian memburu banyak teroris yang ingin memanfaatkan aksi demo besar itu untuk membuat keributan dengan menanam bom diantara pendemo. Yang kita lihat adalah situasi aman dan terkendali. Ada yang harus diperlihatkan dan ada yang tidak.

Kita juga dulu protes keras bagaimana Tito seperti membiarkan Rizieq Shihab kabur ke Saudi. "Jokowi tidak tegas !!" banyak yang teriak seperti itu dan kecewa padanya. Orang yang sama yang sekarang juga ketawa-ketawa melihat bagaimana Rizieq Shihab menderita di pengasingannya nun jauh disana.

Jadi, ketika melihat Jokowi akhirnya membebaskan Abu Bakar Baasyir karena nilai kemanusiaan, jangan langsung teriak-teriak "Jokowi kok malah membebaskan teroris ??"

Kita hanya melihat satu sisi saja, bahwa Baasyir teroris. Tapi Jokowi melihat hal yang lebih luas, untuk keamanan Pilpres ini. Baasyir sudah memenuhi syarat untuk bebas bersyarat karena sudah menjalani dua pertiga masa hukumannya.

Dan pembebasan ini bisa meredam sementara aksi terorisme menjelang Pilpres yang genting ini, supaya kita tetap aman dan tidak takut untuk datang ke TPS karena ancaman bom bunuh diri.

Itu yang lebih penting daripada sekedar bebasnya Baasyir yang sudah renta, sakit-sakitan karena usianya sudah 80 tahun..

Meski begitu, sebelum Baasyir bebas, kepolisian sudah melakukan banyak hal seperti pemantauan dan penangkapan banyak anggotanya menggunakan UU terorisme yang baru. Pak Tito memotong "kaki-kaki" Baasyir sebelum membebaskan kepalanya. Jadi meski bebas Baasyir juga tidak mampu berbuat banyak..."

Akhirnya yang hadir mengerti bahwa di dalam perang, perlu banyak strategi yang dihasilkan dari sudut pandang luas, bukan hanya main hantam yang berakibat medan perang jadi lebih luas.

Keputusan Jokowi memang tidak semua bisa menerima, tetapi dari pengalaman yang kita rasakan sekarang, apa yang dia lakukan ternyata menjadi hal baik bagi kita semua. Dia visioner, melihat jauh ke depan..

Seruput dulu kopinya kawan.

Artikel Terpopuler