Minggu, 06 Januari 2019

JOKOWI, PEMAIN CATUR YANG HANDAL

Jokowi
Pemain Catur
Salah satu kelebihan Jokowi dalam menata negeri adalah kemampuannya meletakkan orang yang tepat di tempat yang tepat..

Jokowi pasti tidak lebih pintar dari seorang Sri Mulyani, yang mantan Direktur Bank Dunia, dalam segi keuangan. Jangan ditandingkan pengalaman Jokowi dengan Sri Mulyani yang sudah melanglang buana ke seluruh dunia, dia pasti bukan apa-apa.

Tapi Jokowi mampu meminta SMI pulang ke negaranya dan mau bekerja dengan gaji yang jauh dibawah pekerjaan lamanya di Bank Dunia. Jokowi paham, pada level seorang Sri Mulyani, yang dicari sudah bukan uang, tetapi eksistensi sosial, bahwa mereka harus berbakti pada negeri yang sudah mau hancur dari segala sisi.

Dan gilanya, Sri Mulyani mau. Ini kemampuan komunikasi yang tidak main-main ketika orang diminta untuk berkorban banyak hal dan orang itu malah mengerjakannya dengan senang hati.

Di bidang lain, Jokowi juga dengan kelihaiannya bisa-bisanya menempatkan Ignasius Jonan sebagai Menteri ESDM.

Tahu apa Jonan tentang migas, tambang, listrik dan hal-hal lain yang berhubungan dengan itu ? Jonan adalah seorang Banker, ahli keuangan. Rekam jejaknya menunjukkan ia pernah menjadi Direktur Citibank dan Managing Director Citigroup.

Tapi Jokowi dengan jeli melihat bahwa proses akuisisi di bidang tambang termasuk Freeport itu berkaitan dengan kemampuan manajerial dan keuangan, bukan semata kemampuan teknis migas dan pertambangan.

Karena itulah ia menyingkirkan Sudirman Said yang sangat ngelotok di energi dan Migas. Sudirman Said mungkin jago di teknis, tapi lemah di sisi akuisisi mangkanya proses akuisisi Freeport sempat berlarut-larut di tangannya.

Untuk mengawal Jonan dari sisi teknis tambang dan migas, Jokowi mengambil Archandra Thahar untuk mendampingi Jonan. Dan dua orang dengan disiplin ilmu yang berbeda ini bisa saling mengisi dan menjadi kekuatan yang sempurna untuk melakukan proses pengambil-alihan tambang paling kontroversial selama Indonesia ada, yaitu Freeport.

Kemampuan menempatkan orang-orang inilah yang membuat visi dan misi Jokowi, berhasil terlaksana dan mencapai target yang dia harapkan.

Juga, ngapain dia ngambil seorang Susi Pujiastuti sebagai Menteri Kelautan dan Perikanan ?

Susi adalah seorang pebisnis, bukan orang yang berkarir di sisi teknis kementrian. Tapi Jokowi paham, bahwa untuk berbicara tentang laut dan ikan, tidak mungkin diserahkan kepada para akademisi dan pegawai negeri. Harus diserahkan pada mereka yang sehari-hari berkutat dengan laut dan ikan.

Dan dipilihlah Susi yang awalnya dicibir tapi ternyata sekarang menjelma menjadi Srikandi yang sangat diperhitungkan.

Sebagai seorang CEO, kemampuan Jokowi adalah menetapkan visi negara ke depan, memilih dan mengatur bidak-bidak yang tepat supaya semua berjalan. Dan ia berhasil sehingga arah Indonesia mulai bisa ditentukan.

Bayangkan, jika yang mengisi Menteri Keuangan adalah Neno Warisman dengan program "jihad uang auto surga", dan Menteri ESDM adalah Fadli Zon yang sibuk dengan puisi tak berkelas dan ketika ditanya kenapa kerjaannya terbengkalai dia menjawab, "tolong dimaklumi".

Masih ditambah Menteri Kelautan dan Perikanan diisi Ratna Sarumpaet yang sibuk menerima donasi dari orang kesusahan dan dipakai operasi di wajah yang sulit ditebak mana yang asli dan mana yang plastik.

Kacau negeri ini bukan?

Mungkin lebih baik yang jadi Menteri adalah Nurhadi- Aldo si Maha Asyik dengan quote mereka yang terkenal, "Kalau orang lain bisa, mengapa harus kita?"

Seruput..

Artikel Terpopuler