Selasa, 15 Januari 2019

Kubu Prabowo Ternyata Cengeng

Politik
Prabowo dan Sandiaga Uno
Masih ingat zaman kita kecil?

Ada saat dimana kita sedang bermain dengan teman-teman dan kelihatan mau kalah, lalu kita menangis keras-keras lari ke rumah dan meninggalkan permainan. Kita teriak-teriak "Curang, curang...," mencoba menarik simpati banyak orang. Teman-teman tertawa melihat kita, dan tangisan kita semakin nyaring terdengar.

Ketika Djoko Santoso, ketua pemenangan Prabowo Sandi mengatakan, bahwa Prabowo akan mundur jika Pemilu curang, saya jadi teringat masa kecil saya yang ingusan juga korengan. Ternyata kubu Prabowo tidak ubahnya seperti anak kecil, sibuk teriak curang dan main ancam mundur dari permainan.

Pernyataan bahwa Prabowo akan mundur dari Pemilu itu melengkapi narasi mereka untuk menjatuhkan para penyelenggara Pemilu, seperti pemerintah dan KPU. Mereka berperilaku layaknya orang yang dizalimi dan mencari simpati. Nangis ke sana ke mari, mengorek sisa-sisa nasi basi.

Ketidakdewasaan kubu Prabowo dalam Pemilu ini menguatkan pendapat banyak orang bahwa karakter mereka lemah, manja dan olokan. Mereka tidak tahan bertanding dengan kompetisi yang ketat, inginnya menang dengan mudah. Kalau kalah, langsung maenan nama orangtua.

Saya bisa kebayang apa yang terjadi ketika kelak Indonesia dipimpin mereka.

Mental bangsa yang sedang dibangun untuk menjadi petarung menghadapi kerasnya arus globalisasi, diruntuhkan dengan kemanjaan. Bangsa ini akan kembali cengeng dan tidak kuat menghadapi kenyataan. Suapan-suapan subsidi yang terlihat seperti melindungi tapi sebenarnya melumpuhkan, akan kembali terulang.

"Kenyangkan rakyat dengan bantuan langsung tunai, niscaya mereka akan bungkam." Dan tumbuhlah kita menjadi bangsa yang selalu meminta dan malas kerja.

Dan mirisnya, perilaku cengeng ini ditularkan oleh mereka yang dulu berpangkat Jenderal. Yang seharusnya memberi contoh bagaimana sikap bertarung yang benar, ksatria, jantan dan tetap bersikap hormat jika lawan menang.

Masak kalah elegan sama Jokowi yang kerempeng, lulusan Perguruan Tinggi lokal, yang katanya boneka partai, plonga plongo, tidak gagah dan tidak bisa berbahasa Inggris dengan benar?

Mendingan jangan pernah seruput kopi, mimik cucu aja, Pak, biar lebih pas dan afdol.

Tagar.id

Artikel Terpopuler