Minggu, 27 Januari 2019

MINORITAS DI MASA JOKOWI

Kelompok
Mayoritas dan Minoritas
Dalam setiap diskusi dimanapun, terutama di gereja, saya selalu berkata, "Jangan pernah percaya proganda minoritas.."

"Dikotomi mayoritas minoritas itu seharusnya hanya ada di era kolonial Belanda, ketika mereka membagi penduduk Indonesia berdasarkan kasta. Dari situ muncullah istilah pribumi, yang berada pada kasta terendah, budak dan bodoh. Dan pemerintah kolonial kerap menyebutnya inlander.

Sejak tahun 1928, seharusnya masalah itu sudah selesai ketika Sumpah Pemuda digaungkan. Dan di zaman internet ini, masalah mayoritas minoritas berdasarkan suku, ras dan agama seharusnya sudah dibuang ke tong sampah..

Tapi kenapa masih ada yang terus memakai istilah itu ?

Karena pertama, ada kelompok bodoh yang hanya bisa eksis ketika mereka menyebut diri mereka mayoritas.

Dan kedua, ada kelompok yang sudah kalah dengan dirinya dan pikirannya, karena dia sudah melabeli dirinya dengan label minoritas.

Kelompok pertama menjadi pongah, kelompok kedua menjadi pengeluh. Kedua kelompok ini adalah akar keributan selama ini.

Masalahnya, sejak lama pemerintahan Indonesia selalu menempelkan diri mereka dengan kelompok pertama.

Karena apa ? Hanya karena suara, supaya mereka terpilih kembali. Sengaja kelompok ini terus dipelihara, dibodohkan, dengan disuapi materi melalui bantuan langsung tunai. Pendidikan mereka tidak dibaguskan, ekonomi mereka tidak dinaikkan dan daerah mereka tetap dimiskinkan.

Akhirnya muncullah kesenjangan yang besar..

Nah, ketika kelompok yang merasa dirinya mayoritas itu bertemu dengan kelompok kedua, para pengeluh yang menyebut diri mereka minoritas, timbul kecemburuan dan iri hati karena masalah ekonomi.

Sialnya lagi, si kelompok minoritas yang sudah kalah sejak dalam pikiran ini, menjadi eksklusif. Hanya mau berbaur dengan kelompoknya sendiri yang akhirnya menguatkan stigma yang sudah terbangun sejak lama. Puluhan tahun lamanya.."

Saya diam sejenak. Biasanya menunggu pertanyaan dari yang hadir disana.

"Lalu, apa yang dilakukan Jokowi supaya kami minoritas ini bisa mendapat hak kami sebagai warga negara ?"

Ah, minoritas lagi. Kata ini yang sebenarnya membuat saya muak, karena saya meyakini pada dasarnya semua manusia di mata Tuhan sama. Hanya amal dan perbuatannyalah yang berbeda.

"Seperti sudah saya katakan, bahwa masalah ini sudah puluhan tahun lamanya. Tidak bisa diselesaikan dalam satu bahkan sampai 10 tahun sekalipun.

Tetapi setahu saya, Jokowi mencoba menyelesaikan dari akar masalahnya. Yaitu ekonomi. Ia mengucurkan dana desa ratusan triliun rupiah supaya desa berkembang. Ia membangun jalan di daerah terpencil supaya bisa dilewati kendaraan. Transportasi dan distribusi barang dibuat mudah. Redistribusi asset tanah jutaan hektar dia kembalikan ke rakyat supaya bisa mengelola..

Tujuannya ekonomi setiap rakyat Indonesia berkembang. Jika perut kenyang, orang sudah sibuk untuk menaikkan derajatnya masing2. Jika pendidikan tinggi, orang sudah tdk bisa dikuasai dogma2 dari pemuka yg mengatas-namakan agama supaya terus berkuasa pada org yang Indonesia yang pendidikannya rendah..

Semua itu butuh waktu. Perjalanan yang panjang. Memperbaiki kerusakan berfikir yang selama ini di pelihara oleh mereka yang punya kepentingan.

Sabar, terus berjuang, dukung pemimpin yang melakukan perubahan. Kalau kita tidak mendukung mereka, lalu siapa yang akan merubah nasib kita ?"

Suara saya sampai serak berbicara tentang hal ini. Saya tidak tahu, apakah suara itu berpengaruh ? Tidak penting, yang penting sudah menyuarakan isi hati.

Dan sebagai pembicara biasanya saya minoritas juga. Karena di depan biasanya cuma ada kopi dingin minus tahu isi. Kering kering dah.

Artikel Terpopuler