Jumat, 25 Januari 2019

POLITIK DALAM SECANGKIR KOPI

Politik
Secangkir Kopi
"Memahami politik itu tidak mudah.. "

Kata seorang teman yang sejak muda memang sudah bergumul di bidang politik. Masa orde baru sebagai mahasiswa, dia sudah berani terang-terangan muncul sebagai penentang rejim yang berkuasa. Kebetulan kami sedang ngobrol bersama di warung kopi di satu daerah di Jawa Tengah..

"Politik itu seni. Benar-benar seni. Sulit diperkirakan kemana arahnya. Benar seperti kamu bilang, seperti langkah catur. Bukan karate atau tinju yang langsung berhadap-hadapan. Penuh dengan gerakan memutar, mencari titik lemah lawan, kadang berteman dengan lawan dan banyak lagi strategi yang baru bisa diketahui arahnya sesudah semua selesai.."

Ia menyeruput kopinya.

"Seperti ketika ada seorang nasionalis bicara untuk razia buku PKI. Apakah dia benar-benar merazia buku PKI ? Bukan. Dia bicara itu untuk meredam tudingan PKI ke arahnya. Dia harus berfikir sesuai orang berfikir terhadap dia. Kalau dia lawan tudingan itu, padahal gelombang tudingan itu menuju dia, bisa hancur dia..

Jadi politikus juga harus bisa bergerak mengikuti ombak, sambil pelan-pelan mengarahkannya ke tempat tenang. Di tempat tenang, karantina. Batasi aksesnya. Akhirnya dia bisa menguasai arus suara yang ada.."

Aku terdiam mendengarkan ia bicara. Menarik sekali membangun wawasan baru.

"Ahok itu bukan politikus. Dia birokrat. Dia lurus, kaku, memang birokrat harus seperti itu. Dia jujur bersih, iya. Tapi ketika dia menjadi politikus dia harus mampu berselancar di arus yang bertentangan dengannya dan menguasainya. Kalau tidak, ia hancur berkeping.

Dia di catur itu ibarat benteng, gagah tapi jalannya hanya bisa lurus gak bisa kemana-mana. Kalau maen layangan, dia maen tarek terus, gak pernah ngulur, jadinya putus..

Kalau Jokowi itu asli politikus. Langkahnya sulit dicerna. Bahkan malah sering dimaki sama orang yang gak ngerti, daripada dipuji. Tapi semua langkahnya efektif. Buktinya apa ? Petral habis, Freeport direbut, mafia pangan dibekuk.

Tapi dia masih aman sampai sekarang, karena lihai. Dia seperti berteman dengan musuhnya, padahal aslinya menusuk. Si musuh baru tahu kalau dia luka, sesudah Jokowi pergi jauh. Telat, bah !"

Kami ketawa terbahak-bahak. Seru juga sore ini.

"Bagaimana untuk tahu strategi politik seseorang supaya kita mengerti langkahnya ?" Tanyaku penasaran.

"Ya, gaul. Gaul ma orang-orang politik. Gaul ma banyak orang, jadi bisa melihat karakter masing-masing pelaku politik. Semakin luas pergaulanmu, semakin pintar. Bagaimana bisa kamu menebak arah politik seseorang, kalau kamu paham dia pun tidak ? Akhirnya cuman onani pikiran doang bisanya..

Satu hal penting yang bisa dijadikan patokan, adalah karakter utama si pelaku politik itu sendiri.

Kalau dia pada dasarnya baik, maka strategi yang dia lakukan, meskipun kamu kadang tidak berkenan, pasti menuju kebaikan. Begitu juga sebaliknya, jika orang itu jahat..."

Ah, mengerti aku jadinya.

"Lu kan dulu raja golput. Trus sekarang golput atau nggak ?"

Dia ngakak.

"Gua dulu golput karena melawan pemerintahn zolim. Golput menjadi perjuangan. Lha, sekarang pemerintahnya bagus, mau jadikan negeri ini besar, ngapain golput ? Justru Golput itu zolim, karena sudah dikasih peluang bagus, kok malah dibuang. Berjuang itu bukan hanya melawan kezoliman, tetapi juga bagaimana mendorong kebaikan.

Jangan sampai apa yang gua perjuangkan di masa orba, malah gua jadi penghalangnya di masa sekarang.."

Kuangkat secangkir kopiku tinggi-tinggi padanya.

Artikel Terpopuler