Rabu, 09 Januari 2019

RAMPOK TETANGGAMU YANG KESUSAHAN

Keributan
Demo
"Jokowi sulit mereka kalahkan..."

Sore ini saya berbincang dengan seorang teman yang sangat mengerti situasi yang tidak tampak di permukaan. Kami minum kopi di sudut tertutup sebuah kafe yang sepi. Dia memang tidak ingin dikenali.

"Teori Firehose of Falsehood yang dikira banyak orang untuk memenangkan pemilu dengan propaganda tenaga kerja China, Jokowi komunis dan lain-lain itu hanya umpan. Mereka sebenarnya sedang menyiapkan gerakan lain yang lebih besar, sebagai pintu masuk untuk membuat keributan.

Sejak lama senjata pamungkas ini sudah dibangun lewat majelis dan bentuk kegiatan lain, dengan bahasa 'kalau kita kalah, berarti mereka curang..' Dan ini terus disampaikan berulangkali supaya orang percaya.

Strategi kedua mereka menyebar isu eKTP yang tercecer, daftar pemilih yang membengkak sampai ditemukan kontainer berisi surat suara yang sudah dicoblos

Strategi ketiga mereka akan memboikot Pemilu.

Sesudah semua matang, mereka akan membuat gerakan demo besar seperti biasa yang mereka lakukan dengan model reuni-reunian, untuk menolak Pemilu atau memperpanjang waktu Pemilu. Begitu juga ketika Pemilu nanti mereka kalah, mereka akan menuntut adanya Pemilu ulang.."

"Gerakan ini sistematis dan terencana dengan baik. Bagi mereka, kalah jadi abu menang jadi arang. Bumi hanguskan. Lalu mereka akan menerapkan model Loot a burning house, atau rampok rumah tetanggamu yang sedang kesusahan. Yang berarti manfaatkan situasi jika terjadi anarki.."

"Bagaimana caranya?"Tanyaku.

"Dengan menampilkan diri sebagai pahlawan. Bahwa situasi negara tidak akan aman jika dipimpin oleh sipil dan serahkan pada militer yang sudah teruji sekian tahun lamanya memimpin negara..."

Ah, jahatnya. Model seperti ini adalah model yang merusak alam demokrasi dengan menggerus kepercayaan publik terhadap penyelenggaraan pemilu. Tanpa sadar, publik sedang digiring untuk membentuk dua kubu yang sama-sama keras dan pada saatnya akan dibenturkan.

Dengan adanya keributan, maka prestasi-prestasi petahana akan terlupakan dan menjadi keuntungan tersendiri ketika publik sibuk membahas fenomena kekinian. Ibarat kemarau sebulan terhapus hujan sehari.

Aku menyeruput kopiku. Permukaan air ternyata tidak setenang yang terlihat.

"Jangan main-main.." kata Moeldoko, mantan Panglima TNI. Beliau juga sudah mencium apa yang sedang terjadi.