Selasa, 12 Februari 2019

JALAN SENYAP UNTUK NEGERI

Polri
Densus 88
"Jalan kemana kita malam ini, lae ? Kujemput kau ya.."

Sebuah pesan masuk melalui handphoneku. Aku tersenyum. Sudah lama aku tidak bertemu mereka. Berbulan-bulan tanpa ada kabar dan berita. Aku hanya membaca tentang hasil kerja mereka di media. Sepi tanpa ada sorak sorai berarti.

"78 teroris ditangkap menjelang Asian Games 2018". "283 teroris dicokok Densus 88 menjelang Asian Games dan 66 diantaranya ditangkap di Jakarta". "Densus 88 tembak mati 77 orang jelang Asian Games". Begitu judul yang kubaca dari sebuah media sekedar lewat saja.

Tidak ada yang sadar bahwa pagelaran Asian Games 2018 kemarin berlangsung sukses dan aman, karena kinerja keras kepolisian terutama Densus 88. Berbekal Revisi UU Terorisme yang sudah disahkan, mereka aktif memburu dalam gelap teroris-teroris yang berkeliaran ingin meledakkan diri ditengah keramaian.

Sejak awal aku sudah diceritakan, bahwa akan terjadi serbuan massif dari kelompok teroris baik itu yang terkait jaringan, maupun yang solo karir dengan nama Lone Wolf yang berkeliaran ingin menghancurkan nama Indonesia melalui ledakan bom bunuh diri di even Internasional itu.

Tapi para teroris itu kali ini menemui tembok tebal. Gerakan Densus 88 pasukan anti teror menyambangi dimanapun mereka berada tanpa menunggu satu bom pun meledak dan mengacaukan. Nama negeri ini dipertaruhkan di mata Internasional.

Pasukan senyap ini bergerak tanpa medali. Mereka harus meninggalkan keluarga dengan resiko tinggi. Tidak ada sambutan gegap gempita, ataupun ucapan terimakasih yang mereka dapatkan. Mereka tidak perduli, karena bukan itu memang yang mereka harapkan.

Teman-temanku datang. Tubuh mereka gempal menghitam. Wajah mereka penuh selidik dan mata mereka tajam melihat sekitar. Kami pindah menuju suatu tempat yang aman.

Lalu mulailah cerita-cerita itu meluncur. Cerita yang tidak bisa kuceritakan. Tentang bagaimana mereka berhadapan dengan maut melawan kelompok dan orang yang membawa konsep mati sebagai jalan keyakinan.

Tidak perlu tahu apa yang mereka lakukan. Kita masih ketawa riang dan bebas beraktifitas tanpa ketakutan adalah bukti keberhasilan. Tanpa mereka, negeri ini sudah lama porak poranda.

Lalu dibakarlah cerutu sebagai tanda kesuksesan. Ini merupakan kebiasaan. Sebagai tanda pengenal antar kawan.

Ingin kubuat cerita mereka kelak. Sebagai pengingat anak-anakku, bahwa ada pahlawan dalam senyap yang tak kan dikenal, yang berjuang supaya negeri ini tetap aman. Mereka hanya dikenal dengan nama kesatuan. Tidak ada nama perorangan.

Bercangkir-cangkir kopi terhidang malam tadi..

"Bagaimana situasi Pilpres 2019 ini?" Tanyaku penasaran. Dan cerita-cerita baru mengalir diantara gelapnya malam.

Artikel Terpopuler