Kamis, 14 Februari 2019

KETIKA CALEG BUNUH DIRI

Bunuh Diri
Ilustrasi Bunuh Diri
Saya punya banyak teman Caleg dengan segala macam motivasinya..

Ada yang berkata ingin berjuang untuk masyarakat. Ada yang bilang bahwa dia ingin berbakti di sisa usianya. Bahkan ada yang berkoar bahwa daerah butuh dia karena membawa aspirasi banyak orang.

Menariknya, dari sekian banyak teman yang Nyaleg, terbanyak dari mereka ternyata karena faktor "aji mumpung" dan "masalah ekonomi".

Darimana saya tahu ? Tentu dari rekam jejaknya.

Bagi saya, tidak ada sesuatu yang muncul tiba-tiba, begitu juga keinginan. Orang ketika memutuskan sesuatu tentu bukan saja berdasarkan pertimbangan, tetapi seharusnya berdasarkan "apa yang pernah dia lakukan". Dari situlah kita bisa melihat niat seseorang bahkan kemungkinan keberhasilan.

Konsep "aji mumpung" mungkin yang terbanyak yang saya temui. Teman-teman saya yang Nyaleg bahkan tidak tahu bagaimana manajemen Nyaleg. Mereka newbie di bidang itu, tetapi karena ada "peluang" yah berangkat.

Apa yang terjadi sesudahnya?

Banyak dari mereka ditipu oleh "konsultan Caleg". Konsultan ini banyak muncul saat penCalegan dengan sejuta ide tentang bagaimana cara memenangkan pertarungan. Tetapi ide dasarnya tetap saja mengeruk uang si Caleg di depan. Mereka tidak penting si Caleg menang atau tidak, yang penting si Konsultan ini dapat uang.

Akhirnya yang terjadi, teman Caleg di kota sudah habis sekian puluh bahkan ratus juta hanya untuk bikin acara-acara gak penting. Malah yang Caleg provinsi sudah habis miliaran rupiah untuk bayar sana sini, sehingga nafasnya sudah habis padahal waktu pencoblosan masih panjang. Mereka jual semua yang bisa dijual dengan harapan "jika menang semua bisa dibayar".

Pencalegan jadi mirip kegiatan Money Game. Yang dibangun mimpi-mimpi "seandainya aku jadi..". Mereka bermimpi bahkan sejak bangun tidur hingga tidur lagi. Motifnya "bagaimana investasi gua balik lagi". Sedih memang, tapi itulah yang terjadi..

Yang kedua terbanyak adalah karena faktor ekonomi..

Faktor ekonomi yang membelit sebagian orang karena kegagalan dalam berusaha dan banyak hutang, membuat beberapa teman Nyaleg karena menurut mereka "modalnya rendah". Cukup beli kaos, stiker dan remeh temeh lainnya, maka kemungkinan menang besar.

Pada akhirnya di perjalanan, mereka frustasi karena Nyaleg ternyata investasi tinggi. Bukannya membayar hutang, mereka malah berhutang lebih besar lagi dengan seribu janji. Dan akhirnya, karena tidak sanggup lagi, seperti Caleg Gerindra itu, langsung gantung diri.

Saya teringat dulu perkataan seorang teman yang "sudah selesai dengan dirinya".

"Legislatif itu adalah wakil rakyat. Karena suara rakyat adalah suara Tuhan, jadi wakil rakyat adalah wakil Tuhan. Dan ketika kita berada pada posisi itu, maka kita berada pada persimpangan dua jalan, yaitu jalan langsung ke surga dan jalan langsung ke neraka.."

Dia menghirup kopinya, diam sejenak dan berkata..

"Banyak orang melihat bahwa menjadi wakil Tuhan itu sebagai kesempatan, sebagai peluang. Padahal itu amanah yang sangat besar. Akhirnya ketika mereka jadi, mereka isi dirinya dengan materi. Mereka lupa apa tujuan hidupnya dan perlahan mengubah dirinya jadi binatang.."

Perkataannya terus mengiang di benak sampai kini, bahkan saat beberapa partai menawarkan diri menyediakan tempat untuk "berbakti".

Ah, mungkin aku memang hanya pantas menulis sambil seruput secangkir kopi.

Artikel Terpopuler