Kamis, 14 Februari 2019

Operasi Terlatih Pembakaran Mobil Semarang

Teror
Ilustrasi Mobil Terbakar
Sejak bulan Januari, Semarang resah.

Tiba-tiba terjadi kejadian beruntun pembakaran mobil dan motor yang diparkir di jalan. Polanya sama, dengan melemparkan sejenis bom molotov yaitu bom dari sejenis cairan yang mudah terbakar dan diberi sumbu kain.

Sampai sekarang, terhitung sudah 28 mobil dan motor yang dibakar dan sudah melebar ke Kendal Jawa Tengah. Pelakunya canggih. Mereka beraksi di tempat yang minim CCTV sehingga tidak didapatkan bukti. Saksi pun minim karena saat kejadian jarang ada yang lewat di sekitar.

Kemungkinan besar pelaku sangat mengenal wilayah sehingga mereka sulit dibekuk sampai sekarang. Polisi sendiri sampai harus menerjunkan 450 personel termasuk Densus 88 untuk terus memantau situasi.

Apa motifnya? Sampai sekarang belum diketahui.

Tetapi belajar dari Swedia, pada Mei 2013, pembakaran yang mirip terjadi di kawasan miskin di Stockholm. Pembakaran mobil di sana berakhir dengan kerusuhan, sebagai picu dari keresahan masyarakat sana terhadap adanya imigran dan pengangguran, serta kesenjangan yang lebar antara si kaya dan si miskin.

Para pelaku disebut memakai topeng dan diperkirakan sebagai "aksi yang mirip operasi militer". Mereka memecahkan kaca mobil sebelum memasukkan cairan yang mudah terbakar.

Agustus 2018, Swedia mengalami situasi yang sama. 100 mobil dibakar. Meski disebut tidak berkaitan, tetapi keresahan menjalar terutama menyasar terhadap adanya imigran.

Mendekati Pilpres 2019 ini, ada yang sengaja ingin membangun keresahan. Situasi yang mirip lagi kita temukan pada tahun 1998 di Banyuwangi, yang dikenal dengan nama operasi naga hijau, yaitu teror "ninja" terhadap mereka yang dituding sebagai dukun santet dan menyasar pada warga NU.

Peristiwa yang sampai sekarang belum terungkap siapa pelakunya itu, tujuannya adalah membangun keresahan. Dari keresahan itu akan muncul kecurigaan. Dan akibat rasa curiga, maka akhirnya jatuhlah korban yaitu orang asing yang kebetulan berada di sekitar sana, dibantai penduduk setempat.

Polanya sama. Bangun keresahan, kemudian dari sana timbul rasa curiga, berlanjut ke pembunuhan dan ada korban lalu terakhir kerusuhan yang diharapkan akan melebar ke mana-mana.

Pilpres 2019 semakin dekat dan guncangan semakin kuat. Ada yang tidak suka negeri ini aman dan tenteram.

Karena mereka biasa mendapat keuntungan di tengah kekacauan.

Artikel Terpopuler