Selasa, 19 Februari 2019

PRABOWO, MESIN TIK YANG BERTAHAN DI ERA DIGITAL

Prabowo Subianto
Prabowo Subianto
Saya jadi ingat era dimana terjadi peralihan dari mesin tik ke era komputerisasi.

Pada waktu itu, banyak sekali orang yang gagap dan gagal beradaptasi. Orang-orang ini terbiasa dengan semua yang bersifat manual dan menolak sistem otomatisasi. Apa alasannya ? Ternyata hanya karena malas belajar.

Mereka tetap bertahan dengan kenyamanan dirinya mengetik memakai mesin tik. Mereka mengeluh dan beretorika terhadap kejayaan masa lalu dan ingin kembali ke masa itu.

Pada perjalanannya, orang-orang seperti ini akhirnya terbuang. Kehilangan pekerjaan dan tetap tenggelam dalam nostalgia sampai akhir hayatnya. Dunia berubah dan mereka tidak siap menghadapinya.


Mungkin mereka tambah menggerutu ketika melihat saya bahkan sudah tidak lagi menggunakan komputer, tetapi mengetik hanya melalui telepon mobile. Saya bisa menulis dimana saja, di WC, di meja makan, bahkan ketika sedang belajar bertahan beberapa menit dengan kepala dibawah ala kampret dan kaki split diatas mengangkang.

"Tidak ada yang abadi kecuali perubahan itu sendiri.." begitu kata seorang teman.

Seperti dejavu, situasi yang sama saya alami ketika menonton debat Capres di minggu malam.

Prabowo masuk arena dengan jas biru tua sewarna dengam celana, lengkap dengan dasi merah. Saya jujur merasa melihat "orang lama", pejabat di era 80an yang tampil dengan jas sebagai kepatutan di depan banyak orang.

Sedangkan di sekelilingnya mereka berbatik ria, bahkan Jokowi tampil hanya dengan kemeja putih lengan digulung dan sneakers hitam.


Prabowo tampil bak produk yang sudah lama ditinggalkan. Dulu, sebuah barang akan terlihat berharga jika bentuknya besar, gagah dan memenuhi ruangan. Tapi zaman sekarang, semakin tipis malah semakin mahal. Beda era.

Dan saya kira, itu hanya dandanan saja. Tapi ternyata pengetahuan Prabowo tidak update juga. Terbukti ketika Jokowi mengajaknya bicara tentang teknologi masa depan, Prabowo langsung gagap gak keruan.

Puncaknya ketika ia bertanya balik pada Jokowi tentang istilah Unicorn yang asing di telinganya. "Yang onlen onlen itu ya?" Wajahnya penuh keraguan, "Gua harus ngomong apa ya?" Dan kembali beretorika muter-muter gak jelas kemana arahnya.

Anak saya yang masuk generasi milenial, jelas ketawa ngakak di depan televisi. "Masak nanyanya yang onlen onlen gitu sih, pa?" Tanyanya ditengah tenggelamnya suara karena cekikikan. Sayapun senyum kecut, "Untung gua gak milih Prabowo.." bisa dianggap jadoel ma anak gua.

Prabowo terlihat tidak belajar tentang perkembangan teknologi sekarang. Mungkin karena usia sehingga merasa tahu semua.


Baginya, Unicorn itu kuda putih bertanduk. Betul sih, tapi itukan jaman cerita HC Anderse. Sekarang Unicorn itu istilah investasi di bidang online.

Prabowo tampak seperti mesin tik di era digitalisasi. Ia berusaha tampil percaya diri, tapi sejujurnya ia sendiri merasa tidak siap menghadapi era ini. Tergilas oleh perkembangan teknologi dan sudah seharusnya mengistirahatkan diri.

Mungkin jika dia ditanya, "Kenal dengan Jack Ma?" Dia bisa saja menjawab, "Engga. Tetangga baru kita ? Moga-moga gak resek kayak tetangga lama.."

Ah, seharusnya Prabowo siap menjadi bagian dari sejarah saja. Sekarang sudah bukan dia waktunya. Mungkin enak duduk2 santai di teras rumah seluas 12 hektar, dengan seratusan kuda, sambil seruput kopi menikmati sisa dunia.

Urusan negara dengan segala problemanya, biar Jokowi saja.

Artikel Terpopuler