Selasa, 19 Februari 2019

Saat Mata Jokowi Berkaca-kaca

Jokowi
Ilustrasi Jokowi
Ada momen menarik saat debat Minggu malam itu.

Ketika menjelaskan tentang bagaimana ia berjuang supaya rakyat mendapat hak atas konsesi tanah, rakyat berhak mendapatkan sertifikat, rakyat adat berhak mendapat hak ulayat, mata Jokowi terlihat merah dan berkaca-kaca.

Rahangnya mengatup keras dan bicaranya penuh tekanan.

Jokowi seperti mengeluarkan dendam dalam bentuk pernyataaan dari kenyataan yang selama ini ia dapatkan. Kenyataan yang ada, ia melihat data bahwa pembagian hak atas konsesi tanah hanya dimiliki oleh 1% dari seluruh penduduk Indonesia.

Orang-orang super kaya ini mendapat hak pengelolaan atas tanah sampai ratusan ribu hektar. Dan "dendam" itu akhirnya ia sampaikan secara verbal kepada lawan politiknya, Prabowo Subianto, yang ternyata menjadi bagian dari 1% persen masyarakat itu.

"Saya tahu Pak Prabowo memiliki lahan yang sangat luas di Kalimantan Timur sebesar 220 ribu hektar. Juga di Aceh tengah sebesar 120 ribu hektar. Saya hanya ingin menyampaikan bahwa pembagian-pembagian seperti ini tidak dilakukan pada masa pemerintahan saya," katanya menahan geram.

Prabowo terdiam tanpa bisa menjawab. Jokowi sudah memukulnya telak sekaligus membongkar rahasia besarnya. Dan di akhir acara, Prabowo akhirnya mengakui apa yang Jokowi katakan.

Dalam perjalanan kepemimpinannya, Jokowi banyak membagikan sertifikat dalam bentuk konsesi lahan kepada masyarakat. Ia ingin mengubah budaya selama ini bahwa hak atas pengelolaan tanah hanya bisa dimiliki perusahaan besar. Jokowi ingin rakyat juga menikmati bumi dan kekayaan alam yang terkandung di dalamnya.

Jokowi memang geram dan sudah saatnya ia mengubah apa yang selama ini salah. "Kembalikan tanah untuk rakyat. Mereka berhak atas kekayaan alam yang terkandung di dalamnya," begitu pesan yang ia sampaikan.

Sesudah debat itu, hati saya semakin mantap. Dia adalah orang yang harus saya bela. Tidak ada lagi keraguan saya di dalamnya.

Sesudah Jokowi menyampaikan pesan itu, ia kembali duduk dengan "amarah" di dada. Dan saya mengangkat secangkir kopi untuknya.

Bukan sembarang kopi, tetapi kopi perjuangan.

Artikel Terpopuler