Selasa, 12 Februari 2019

SURAT UNTUK BU MIEN UNO

Ibunda Sandiaga Uno
Mien Uno dan Sandiaga Uno
"Jika memang Jokowi bukan anak PKI, kenapa tidak mau tes DNA?"

Begitu rata-rata postingan yang saya baca di laman2 media sosial. Isu Jokowi anak PKI begitu deras meluncur seperti gelontoran air bah yang dikomando dari pusat fitnah.

Bukan itu saja. Orangtua Jokowi pun terkena api fitnah yang luar biasa. Ibunda tercintanya dikatakan "ibu palsu" dengan semua teori liar tentang usia, wajah dan semua dikapitalisasi demi menaikkan share atau retweet di media sosial.

Media online abal-abal pun tidak mau ketinggalan menangguk untung ketika ada kesempatan. Fitnah menjadi komoditas, ada harga yang dimainkan.

Bahkan Jonru - salah seorang pemfitnah besar pada masa jayanya - memanfaatkan situasi itu dengan jualan sprei anti ompol untuk membiayai kehidupannya. Pada akhirnya, dia sendiri yang ngompol di penjara karena tidak mampu menjaga lidahnya yang berapi bak naga kempot yang mencari jati diri.

Bayangkan. Bagaimana perasaan seorang Presiden seperti Jokowi, keluarga bahkan orangtua beliau menghadapi ganasnya fitnah yang melanda mereka bertahun-tahun lamanya ?

Dahsyat. Mereka menanggapinya dengan sangat tenang dan tidak terpancing untuk mengeluarkan pernyataan serampangan. Ibunda Jokowi begitu tabah dalam diamnya karena mengerti, resiko berjalan di arah yang benar adalah dihantam. Ini medan yang sangat keras, yang hanya bisa dilalui oleh sedikit orang.

Jokowi sendiri fokus dengan karyanya. Ia paham, cara membungkam mulut-mulut busuk dengan otak yang penuh belatung bergantungan adalah dengan mewujudkan karya besar. Indonesia dilukis olehnya dari ujung barat sampai timur dengan indah.

Akhirnya, fitnah itu pelan-pelan menghilang dan Jokowi tampil sebagai pemenang, mendapat tepukan panjang dan sorak sorai kekaguman dari para intelektual.

Dan hari ini saya membaca pernyataan seorang Mien Uno, yang katanya pakar kepribadian. Ibu dari seorang Cawapres bernama Sandiaga Uno, yang sedang dibully karena terlalu sering memainkan sinetron "reality show" termehek-mehek yang menempati rating tertinggi di bumi datar.

"kalau ada orang yang mengatakan itu Sandiwara Uno, dia harus minta maaf kepada ibunya yang melahirkan dan mendidik Mas Sandi dengan segenap tenaga untuk menjadi orang yang baik. Siapa yang mau berhadapan dengan saya sebagai ibunya?" Katanya terisak menggambarkan kepedihan hatinya.

Mungkin disana, di tengah pulau Jawa, ibunda Jokowi tersenyum halus dengan sopannya. Jika berhitung sakit hati karena dilecehkan, jelas Mien Uno tidak ada sejengkal kukunya. Tetapi yang membedakan adalah cara menghadapinya.

Bunda seorang besar dan kenyang ditempa, tentu berbeda dengan bunda seorang anak manja yang sejak kecil bergelimang harta.

Jika saya ibunda Jokowi, saya pasti akan mengirim pesan kepada Mien Uno dengan santunnya. "Ibu Mien, jadi ibunda Presiden itu berat. Ibu tidak akan kuat. Biar saya saja..."

Ya, biar Jokowi saja. Pilpres ini keras, bu. Kalau tidak kuat, bilang ke mas Sandi, lambaikan tangan ke depan kamera..

Seruput kopinya.

Artikel Terpopuler