Minggu, 03 Maret 2019

DIAZ, SI ANAK METAL

PKPI
Diaz Hendropriyono
Beberapa hari lalu, telepon saya berdering..

Ternyata dari Diaz Hendropriyono, Ketum PKPI. "Bro, merapat yuk.." Katanya.

Undangan menarik nih, pikirku. Akupun berangkat dengan senang karena ngopi dengan tokoh itu memang cita-citaku sejak lama, untuk membedah apa yang ada di dalam pikiran mereka.

Dan pertemuanpun berlangsung dengan hangat disebuah restoran mewah dimana tidak ada tahu isi dan kopi tiga rebu rupiah. Gapapa lah, sekali-kali bergaya kaya, biasa tahu isi sekali ini steak tebal.

"Mediumrer atau weldan ?" Tanya pelayan. Weldan, kata saya cepat ingat nama teman di kampung halaman Weldan Sianipar. Gile, si Weldan kerja disini sekarang..

Pembicaraan berjalan terus. Diaz si "Anak Metal" ini cerita banyak tentang perjalanan dia ketika diminta untuk ketiga kalinya memegang PKPI oleh Pak Tri Sutrisno. Pada akhirnya dia menyerah dan menerima tantangan terbesar dalam hidupnya, meninggalkan zona nyamannya, menjadi Komisaris Telkomsel dan staf khusus Presiden.

Diaz orang muda yang penuh semangat. Ia bercerita panjang tentang bagaimana awal mula ia menerima partai dalam kondisi yang amburadul sesudah perang panjang dengan Sutiyoso di pengadilan. Masa-masa dipegang ayahnya, Hendropriyono, memang masa "perang" berebut kendali siapa yang berhak mengelola PKPI.

Dan sesudah perang selesai, Diaz kaget ketika ditinggalkan kas partai yang tinggal beberapa juta rupiah saja. "Gimana nih ?" Pikirnya lama.

Telepon sana telepon sini, membangun jaringan, mencari uang cash, memilih caleg, membangun perwakilan, itulah kerjaan dia sehari-hari dalam waktu yang singkat ini supaya PKPI bisa ikut bertarung di 2019.

Akhirnya PKPI pun berhasil melalui masa sulit pertamanya. Mereka ikut bertarung dalam kompetisi politik yang berat, dimana partai harus memenuhi ambang batas minimal 4 persen supaya lolos ke Senayan.

"Mendengar orang menyebut nama PKPI saja, gua dah senang.." Kata Diaz gembira. Ia patut berbangga, karena itu kerja terberat dalam hidupnya. Diaz seorang pemain gitar handal dan saya yakin selama proses mengantarkan PKPI hobi itu banyak ditinggalkannya.

"Kenapa PKPI tidak mengambil jargon partai jaman now ?" Tanya saya menggoda. Insting wartawan saya biasanya suka menyatu dengan kekenyangan. Semakin kenyang semakin pintar 😂😂.

"Karena PKPI tidak membatasi diri pada usia.." Kata Diaz. "Kalau hanya dibatasi pada usia, untuk apa ? Usia muda kalau tidak punya karya, sia-sia. Meski usia sudah tua, tapi dia punya karya yang membanggakan atau "woww!" , itulah yang diinginkan partai.

Jadi itulah kenapa PKPI tidak membatasi diri menjadi "jaman now", PKPI adalah partai "jaman wow", jaman yang mencengangkan.." Diaz menutup ceritanya dengan tertawa lebar.

Menarik juga filosofinya Diaz. Bahwa karya tidak tergantung usia. Seperti contoh Colonel Sanders, yang justru memulai usaha pada usia 60 tahun sesudah pensiun dari tentara. Dan kini karya Wow nya Kentucky Fried Chicken mendunia. Muda kalau cuman jadi kampret doang, untuk apa ??

PKPI sendiri diprediksi sangat berat untuk lolos di Pemilu kali ini. Tapi prediksi itu ditertawakan Diaz, "Kamu belum menang atau kalah jika belum sampai garis finish.." Ia tersenyum.

Diaz memang sedang digodok melalui situasi terberatnya. Tapi ketika ia mampu melalui semua itu, ia akan hadir sebagai sosok petarung yang handal menghadapi segala medan.

PR terbesar PKPI adalah model One Man Show yang selama ini menjadi kelemahan banyak partai. PKPI sekarang ini yang terlihat hanyalah seorang Diaz, padahal partai itu ibarat klub sepakbola, permainan tim yang mengandalkan banyak bintang untuk bisa memainkan serangan.

Selesai sudah perbincangan, saya pamit pulang sesudah sebelumnya menyeruput secangkir cappucino yang menawan. Ketika ada pelayan, saya iseng bertanya, "Si Weldan udah berapa lama kerja disini ??"

Si pelayan bingung, "Maaf pak, saya gak kenal. Yang saya kenal Ferdinan. Tapi dia udah jadi politisi sekarang.. "

Glodak..

Artikel Terpopuler