Selasa, 12 Maret 2019

GRACE NATALIE STRIKES BACK!

Partai Solidaritas Indonesia
Grace Natalie
"PSI ini partai apa sih ?? Gak jelas gitu !!"

Begitu gerutu seorang teman yang saya tahu sebenarnya adalah pendukung berat Partai Solidaritas Indonesia, yang bernomor 11 itu. Dia kecewa dengan iklan Grace Natalie, Ketum PSI, yang katanya "kaleng kaleng" karena bergaya ABG tua.

Saya ketawa baca statusnya. Ah, justru saya suka gaya PSI. Mereka bisa memainkan banyak gaya tanpa kehilangan soliditasnya.

PSI bagi saya adalah sebuah tim sepakbola yang lengkap. Mereka punya striker, gelandang, bek sampai penjaga gawang yang hebat. Banyak nama-nama besar yang tercipta karena mereka memang pemain handal dibidangnya. Ada Grace, ada Raja Juli Anthony, ada Tsamara Atsmany, Guntur Romly, Dini Purwono sampai Giring Ganesha.

Saya pernah menulis, partai itu seharusnya sebuah tim, bukan permainan yang mengandalkan nama besar seseorang. Dan PSI berhasil membangun kesebelasan yang bukan hanya bisa bermain Samba Brazil, tetapi juga Tango Argentina, Tiki Taka Barcelona sampai Total Football Belanda. Tergantung pada situasi apa, dimana bermainnya dan siapa lawannya.

Benar saja. Sesudah kemaren keluarkan iklan receh dengan gaya centil manja, PSI tiba-tiba keluar dengan gaya Full Attack saat Grace Natalie berpidato di Medan tadi.

Grace menyerang semua partai besar - baik partai koalisi maupun oposisi - yang bermain aman terhadap intoleransi dan korupsi di negeri ini. Semua. Tanpa terkecuali.

"Ke mana kalian pada September 2018 ketika Ibu Meliana, korban persekusi yang rumahnya dibakar pada saat dia dan anak-anaknya ada di dalamnya, justru divonis bersalah penjara dua tahun oleh pengadilan ??" Raung Grace dengan gaya yang sangat berbeda ketika ia tampil manis manis manja di iklan partainya.

"Kenapa kalian bungkam, ketika pada 27 September lalu, tiga gereja disegel Pemerintah Kota di Jambi karena adanya ancaman dan desakan sekelompok orang? Hanya PSI yang mengecam. Sedang apa kalian ketika 13 Januari lalu terjadi persekusi atas jemaat GBI Philadelpia yang sedang beribadah di Labuhan Medan? Kenapa hanya PSI yang memprotes itu?"

Ibarat striker, Grace terus menerus menyerang gawang lawan dengan tembakan-tembakan berbahaya kepada partai-partai gemuk dan lamban yang sudah asyik berada di zona nyaman. Bagi Grace dan PSI, narasi-narasi intoleransi adalah narasi yang penting saat ini, disaat banyak partai berlindung dibalik ketakutan tidak dipilih jika mengguncang komunitas yang merasa benar sendiri.

PSI mungkin partai baru, tetapi gaya permainannya merubah gaya permainanan politik lama yang cenderung bermain aman.

Saya jujur melihat PSI mirip seperti PDI Perjuangan tahun 96 dulu ketika harus bertempur melawan PDI Soerjadi, bentukan Soeharto waktu itu. Saya sendiri waktu itu di Bali sampai turun ke jalan memberi semangat kepada Megawati untuk melawan rezim orde baru.

"PSI kayak lolos aja. Paling ya kurang dari 4 persen suaranya.." Begitu seorang teman mengejek dengan nada sinis.

Saya tersenyum. Justru disanalah kekuatan PSI. Mereka diremehkan, dianggap partai kumpulan anak muda yang belum matang, dan jika seperti itu, PSI akan bermain tanpa beban. Mereka akan terus bermain dengan gaya menyerang, mengenalkan dirinya, ideologinya dan semua yang harus dilakukan.

Saya justru ingin memberi kesempatan kepada PSI tampil di Senayan tahun ini. Bukan karena saya suka mereka, tetapi justru ingin menguji mereka, apakah kegarangan PSI akan seperti sekarang jika mereka sudah berada di kursi empuk dan nyaman ?

Jika mereka begitu, setidaknya saya punya kesempatan untuk memaki mereka dan berkata, "Rasain lu. Gua kira singa, ternyata kucing Angora.."

Seruput kopinya.

Artikel Terpopuler