Jumat, 08 Maret 2019

Hizbut Tahrir & Agenda Besar Mereka di Indonesia

Hizbut Tahrir
Gus Yaqut, Ketum Ansor
Sejak lama saya mendengar agenda Hizbut Tahrir untuk menjadikan Indonesia sebagai negara Islam..

Indonesia adalah negara terbesar diantara negara-negara di Asia Tenggara. Dengan menguasai Indonesia, maka penguasaan terhadap negara-negara ASEAN lainnya akan lebih mudah. Dan salah satu kekayaan Indonesia bagi Hizbut Tahrir adalah jumlah mereka yang beragama muslim yang disebut terbanyak di dunia.

Tahun 1983, berdirilah Hizbut Tahrir di Indonesia oleh Abdurahman Al Baghdadi, seorang mubaligh dan aktivis dari Hizbut Tahrir yang berbasis di Australia. Dengan dana besar, ia membangun basis di Indonesia dan membangun jaringan-jaringan melalui masjid, musholla dan dunia pendidikan.

Indonesia akan dijadikan basis utama dalam penguasaan negara-negara di Asia Tenggara. Dinamakan dar al Islam atau wilayah Islam.

Salah satu pola Hizbut Tahrir yang sama di beberapa negara adalah penyusupan mereka ke tubuh militer. Masuk dengan baju agama, Hizbut Tahrir mencuci otak anggota militer untuk melakukan kudeta atau pemberontakan bersenjata. Inilah yang membuat organisasi ini dilarang di lebih dari 20 negara.

Indonesia termasuk terlambat dalam membubarkan organisasi Hizbut Tahrir karena ideologi khilafah mereka sudah lekat di benak banyak orang terutama di dunia pendidikan.

Hizbut Tahrir sudah melahirkan banyak guru besar, rektor dan dosen yang menguasai beasiswa yang diperuntukkan bagi kader-kader mereka.

Dibandingkan dengan ormas seperti FPI, Hizbut Tahrir jauh lebih berbahaya karena mereka kaum intelektual. Hizbut Tahrir juga menguasai media informasi seperti jaringan televisi dan media sosial untuk membesarkan kader mereka.

Salah satu cara mereka adalah membesarkan pesohor atau artis melalui jaringan media, supaya banyak orang tertarik bergabung dengan kelompok mereka.

Pilpres 2019 ini adalah perang terakhir Hizbut Tahrir Indonesia HTI sesudah dibubarkan Jokowi di tahun 2017.

Hizbut Tahrir tidak pernah mengikuti pemilihan umum di banyak negara, karena meyakini bahwa pemilu lahir dari negara kafir. Tetapi Pilpres 2019, HTI berubah total, mereka menjadikan Pilpres sebagai ajang jihad dengan cara memilih sebagai bagian dari siasat perang.

Jadi sekali lagi, Pilpres kali ini bukan tentang Prabowo versus Jokowi. Tetapi pertarungan keras ideologi antara Khilafah dan NKRI. Jika mereka jihad untuk menjadikan Indonesia negara Islam, kita juga harus berjihad untuk mempertahankan negeri ini.

Salam secangkir kopi.

Artikel Terpopuler