Minggu, 10 Maret 2019

JEJAK BERDARAH PRABOWO DAN TIM MAWAR

Jejak Prabowo
Foto Prabowo
"Dari hasil pemeriksaan, akhirnya didapat bukti bahwa Prabowo telah melakukan pelanggaran HAM berat.."

Begitu cerita Jenderal TNI (pur) Agum Gumelar di sesi diskusi yang videonya menyebar pagi ini dan mampir di timeline saya.

Agum bercerita panjang tentang hasil temuan yang dia lakukan bersama Dewan Kehormatan Perwira DKP dimana ia bersama Subagyo HS, Susilo Bambang Yudhoyono dan beberapa perwira lain yang pada waktu itu berpangkat Letjen, memeriksa Prabowo dan tim Mawarnya yang sudah melakukan penculikan dan penghilangan nyawa beberapa aktivis saat peristiwa 98.

"Saya mantan Letjen Kopassus. Tim Mawar yang melakukan penculikan itu mantan anak buah saya semuanya. Saya melakukan pendekatan dari hati ke hati dengan mereka. Dari pendekatan itu barulah saya tahu bagaimana matinya orang-orang itu, dimana dibuangnya, saya tahu itu..

Astaghfirullah Al Adzhimm.."

Agum seperti berhenti berbicara saat membayangkan situasi yang tidak terbayangkan olehnya waktu memeriksa kesaksian para pelaku yang dikenal dengan nama tim Mawar.

Menurut data Kontras, dalam kurun waktu 1997-1998, 1 orang aktivis ditemukan meninggal dunia dan 13 orang hilang tak tentu rimbanya. 9 orang dilepas.

Pengadilan Mahkamah Militer Tinggi pun tidak membuka dengan jelas kepada publik bagaimana proses penghilangan para aktivis itu dengan berbagai alasan. Sampai sekarang, jejak mereka yang hilang tidak pernah diketahui dan nama mereka hanya tercatat sebagai bagian dari sejarah kekejaman orde baru dengan komando dari Danjen Kopassus saat itu, Prabowo Subianto.

Prabowo sekarang menjadi salah satu Calon Presiden Republik Indonesia dengan jejak berdarah.

Sedangkan para aktivis yang dibebaskannya seperti Andi Arief, Pius Lustrilanang dan Desmon J Mahesa, malah ikut mendukung Prabowo menjadi Calon Presiden padahal mereka adalah saksi mata yang paling dekat bagaimana proses penculikan saat itu berlaku.

"Sejarah hanya ditulis oleh pemenang.." Begitu kata Winston Churcill mantan PM Inggris yang mengutip dari kata Napoleon Bonaparte.

Jangan sampai fakta sejarah harus ditulis ulang hanya karena para pelaku utama berkuasa untuk membersihkan tangan mereka. Jejak-jejak itu harus tetap ada dan dikabarkan, bukan sebagai bagian dari upaya balas dendam, tetapi menjadi catatan bagi para penerus bangsa ini kelak supaya tidak lagi menggunakan kekerasan dalam memperoleh kekuasaan.

Secangkir kopi yang terhidang pagi ini dari Belitung seperti bercerita banyak tentang tangisan dan teriakan korban yang hilang yang meminta ampun supaya nyawa mereka tetap bertahan.

Tapi apalah daya teriakan mereka di keheningan, ketika tangan-tangan yang keras itu dengan dingin bertindak sebagai malaikat pencabut nyawa..

Alfatihah untuk mereka yang hilang demi keyakinan yang mereka perjuangkan.

Artikel Terpopuler