Senin, 04 Maret 2019

KETIKA AGAMA MENJADI SENJATA

Agama
Ilustrasi
"Gua muak lihat politisasi agama di kedua kubu. Kayaknya gua golput !!"

Begitu status seseorang yang saya baca. Nada tulisannya penuh kemarahan karena penuh dengan tanda seru dan emoticon galak. Ah, saya gak tahan untuk tidak menulis tentang ini.

Siapapun pasti muak ketika melihat agama di politisasi. Siapapun yang rasional. Termasuk saya.

Sejak era reformasi, agama sudah dipolitisir secara terbuka. Ingat peristiwa Pilpres 2009 dimana ada kabar yang beredar untuk tidak memilih Megawati sebagai Presiden karena dia wanita ? Ayat-ayat bertebaran ditambah dengan petuah ulama, yang gak jelas itu ulama mana. Banyakan dari PKS kalau gak salah..

Pilgub DKI 2017 adalah pemilu dengan politisasi agama paling brutal sepanjang sejarah. Ah, gak usah diceritain kita semua tahu apa yang terjadi. Dan mereka menang dengan bangga meski harus menjual mayat saudara seimannya.

Lalu bagaimana mengatasi semua ini disaat itu menjadi senjata terkuat mereka ? Kesuksesan pasti ingin diulang menjadi kesuksesan selanjutnya. Dan kita tidak tahu, seberapa mengerikan situasi yang terjadi jika strategi itu mereka ulang lagi.

Saya pernah menulis dulu, bahwa untuk memadamkan api di ladang minyak tidak bisa dengan air, harus dengan ledakan kuat untuk menutupi kebocorannya. Ketika politisasi agama jadi senjata pembunuh massal, penjelasan serasional apapun tidak akan pernah berarti.

Caranya hanyalah dengan konsep "fight fire with fire", propaganda lawan dengan propaganda juga. Selama ini orang baik hanya menari di genderang perang orang jahat, hanya karena "kita tidak boleh bermain seperti mereka..". Tetapi toh situasi itu disaat "perang" sangat tidak menguntungkan.

Ketika Jokowi memainkan "agama" lewat strategi perangnya dengan menggandeng KH Maaruf Amin dan NU dibelakangnya, banyak pendukungnya yang protes. "Kok Jokowi maenan agama juga ?" Teriak mereka. Tapi mereka juga tidak memberikan solusi, bagaimana memenangkan perang melawan monster yang sudah mengganas seperti ini?

Suka tidak suka, ditengah masyarakat yang sedang mabok agama, senjata yang ampuh untuk menahan keganasan lawan adalah dengan menggunakan senjata yang mereka pakai. Hanya kali ini digunakan dengan cara yang elegan. Politisasi agama tidak bisa dilawan, tetapi bisa dijinakkan.

Dan terbukti, ketika Jokowi memakai senjata "agama" juga sebagai lawan tanding mereka, keganasan itu langsung teredam. Ijtimak ulama ditandingkan dengan ulama beneran. Demo menggunakan nama agama, ditandingkan dengan shalawat bersama. Mereka terdiam, senjata mereka atas nama agama kali ini tidak mempan.

Isu Jokowi PKI, antek aseng dan kriminalisasi ulama, pelan-pelan menghilang karena dia menggandeng para ulama. Masyarakat awam akhirnya bahkan menilai bahwa dalam soal ibadah, Jokowi lebih taat dari lawan politiknya yang suka joget-joget bersyariah.

Kali ini genderang lawan tidak mampu membangun tarian baru, malah mereka menari di genderang yang dibunyikan petahana. Serangan "firehose of falsehood" yang mereka andalkan, malah dikembalikan dengan serangan yang sama dengan narasi "Jumatan dimana?" "Bisa ngaji apa tidak ?"

Memang Pemilu kali ini kental dengan strategi receh. Tetapi receh harus dilawan dengan receh juga. Kalau tidak, akan terpilih orang yang akan merecehkan seluruh Indonesia jika dia berkuasa.

Kondisi perang tidak mengenal "suka atau tidak suka", tetapi bagaimana strategi untuk mengalahkan lawan dengan menghantam kelemahannya. Jangan sampai yang jahat berkuasa, hanya karena kita tidak mau menggunakan pedang disaat dibutuhkan.

Sudah mengerti sekarang ??

Mari seruput kopinya..

Artikel Terpopuler