Sabtu, 16 Maret 2019

PARA PENJUAL AYAT

Alph Lukau
Alph Lukau
Jadi pendeta di Afrika Selatan dan sebagian negara Afrika lainnya itu menggiurkan. Disana pendeta sudah dianggap orang suci -pake banget- sehingga jemaatnya bisa dengan ikhlas mengorbankan hartanya dengan maksud berderma. Tapi keikhlasan itu malah digunakan foya-foya oleh pendetanya.

Seperti Alph Lukau dari gereja Alleluia, menjadi pendeta yang kaya raya dengan pendapatan hampir 14 triliun rupiah. Supaya bisa dipercaya, Lukau bahkan bikin pertunjukan menghidupkan orang mati. Gilanya, jamaahnya percaya lagi.

Kaya dari berjualan ayat ini jadi inspirasi banyak orang di Afsel untuk berlomba-lomba menjadi pendeta. Jadi pendeta disana cukup melakukan hal yang kontroversial sebagai bagian dari "mukjijat" karena sebagai orang suci harus ada mukjijatnya dong, baru sah jadi pendeta.

Karena tuntutan itu, akhirnya jadi aneh-aneh. Ada pendeta yang semprotkan baygon ke wajah jamaahnya supaya penyakit matanya sembuh. Malah jadi buta.

Ada juga pendeta yang ingin buktikan bahwa dia bisa menaklukkan seekor singa, lalu masuk ke kandangnya. Ya, mati diterkam. Gagal jadi orang kaya..

Resesi ekonomi di Afrika selatan membuat banyak orang jatuh miskin. Dan sebagai pelarian, mereka mencari keselamatan ekonomi dari agama. Jadilah mereka mangsa empuk para predator berbaju agama. Mereka tetap miskin, pendetanya makin kaya.

Situasi yang mirip-mirip dengan Indonesia. Disini cukup bisa ayat sedikit, pake pakaian gamis, lebih bagus lagi kalau ada gelar habib, jadilah pemuka agama. Dan kalau sudah diakui sebagai ustad atau ulama apalagi habib, Rubicon pun di depan mata.

Saya dulu sempat berfikir begitu. Jadi ustad di Indonesia enak. Cukup beli pistol anak-anak, ngerti sedikit ayat, trus kalau ada yang percaya pengobatan saya tinggal tembakkan pistolnya di wajahnya, "Fire, fire, fire..."

Dapat duit dah.

Indahnya berbagi secangkir kopi.

Artikel Terpopuler