Sabtu, 16 Maret 2019

Penembakan Masjid di Selandia Baru, Ada Apa Dibaliknya?

Brenton Tarrant
Brenton Tarrant
Waktu sedang di Sidney, Australia, seorang teman bercerita bahwa ada penguatan kebencian dari warga Australia asli terhadap imigran muslim disana.

Menguatnya "white supremacy" dari kelas menengah pekerja diakibatkan pemerintah Australia pada waktu itu seperti memanjakan para imigran. White supremacy itu seperti slogan "pribumi" di Indonesia. Dan persamaan dari "pribumi Australia" tentu adalah agama mereka yang Kristen.

Tambah menguat kebencian mereka karena imigran muslim dari berbagai negara disana, ngelunjak. Mereka sering demo, berbuat keributan dan menuntut macam-macam. Padahal banyak dari mereka pengangguran dan dibiayai oleh pajak warga negara Australia.

Situasi ini mungkin berkaitan dengan penembakan masjid di Selandia Baru yag dilakukan warga Australia yang menamakan dirinya dan menewaskan 49 orang. Pelaku yang berumur 28 tahun itu menggambarkan dirinya sebagai kelas pekerja, penghasilan rendah dan manusia biasa.

Dia mengeluarkan manifesto untuk memastikan "masa depan dirinya dan keluarganya". Manifesto ini berisi 87 halaman dan berisi kebencian terhadap imigran dan Islam.

Pertanyaannya, kenapa si Brenton warga Australia ini melakukan penembakannya di Selandia Baru dan bukan di Australia?

Selandia Baru dan Australia adalah sama-sama negara persemakmuran, bekas koloni Inggris, sehingga mereka tidak perlu visa untuk saling berkunjung. Ini membuat apapun yang dilakukan Brenton di Selandia Baru adalah pesan yang sama untuk mereka yang di Australia.

Yang menarik, kepemilikan senjata di Selandia Baru jauh lebih longgar daripada di Amerika.

Pemilik senjata di Selandia Baru memang harus memegang lisensi kepemilikan senjata, tetapi tidak harus melaporkan jenis senjata yang dia miliki. Menurut Sidney Morning Herald, warga Selandia Baru yang berusia 16 tahun wajib punya senjata.

Meski begitu, angka pembunuhan di Selandia Baru akibat pemakaian senjata dikabarkan sangat rendah.

Jadi, si Brenton dari Australia ini bisa saja masuk ke Selandia Baru dan membeli senjata disana karena longgarnya pengawasan. Lihat saja senjata semi otomatis yang dia pakai seperti sedang perang di Suriah.

Saya yakin, peristiwa di Selandia Baru tidak akan memicu situasi apapun disana. Tetapi yang saya khawatirkan malah di Australia, dimana Brenton memicu semangat "white supremacy", anti Imigran dan anti Islam akan semakin berkembang disana..

Apalagi ditengah ekonomi Australia yang dikabarkan November 2018 lalu, harga rumah jatuh dan keuangan semakin ketat akibat perang Global AS vs China, meskipun dilaporkan juga angka pengangguran menurun. Bisa saja ada aksi pelampiasan karena rasa kalah secara ekonomi pada para imigran.

Apapun alasannya, yang dilakukan Brenton Tarrant itu sudah masuk pada kategori terorisme, karena dia mengirimkan pesan ketakutan dengan memfilmkan adegan sadisnya ke seluruh dunia.

Mirip dengan ISIS yang dengan bangga memamerkan kekejamannya sebagai pesan bahwa mereka adalah kelompok yang harus ditakuti dunia.

Seruput kopinya.

Artikel Terpopuler