Selasa, 23 Agustus 2016

MENEPUK ARCHANDRA, MENDULANG PRABOWO

Mantan Menteri ESDM

Selesai sudah drama dwi kewarga-negaraan dengan diberhentikannya secara hormat Menteri ESDM Archandra Tahar oleh Jokowi.

Keputusan yang berat karena ini berarti harus membongkar kesalahan adminsitrasi di internal istana dan jelas mempermalukan muka Jokowi. Tetapi keputusan itu tepat, karena jika tidak segala keputusan Menteri ESDM akan menjadi sandera politik terbesar sepanjang sejarah pemerintahan Jokowi. Produk cacat akan menghasilkan hukum yang cacat pula.

Dan -lagi-lagi- langkah Jokowi yang cepat ini menyelamatkan dirinya dari tsunami serangan yang akan melandanya kelak. Lihat saja, belum apa-apa PKS sudah bergerak untuk mengajukan hak interpelasi atau meminta keterangan kepada Presiden atas kasus Archandra.

Terbayang ketika keputusan yang dihasilkan Archandra nanti akan digugat keras karena masalah dwi negaranya dan hasilnya akan membuahkan impeachment atau penurunan Jokowi dari jabatannya. Betapa riuhnya politik di Indonesia yang mengakibatkan terhentinya arus investasi luar negeri akibat ketidak-percayaan terhadap situasi dan kondisi dalam negeri.

Oke, masalah itu sudah selesai meskipun kaum sperma tak bertuan masih sibuk ngomel sana sini melampiaskan ejakulasinya ke segala arah.

Yang menarik buat saya adalah kemampuan tim Jokowi memanfaatkan situasi buruk yang sedang terjadi dan menjadikannya senjata yang akan ditembakkan pada saatnya nanti.
Senjata itu adalah isu dwi warga negaranya Prabowo yang pernah menjadi warga negara kehormatan Jordania.
Asosiasi Pengacara Pengawal Konstitusi atau APPK pernah mendatangi KPU untuk melakukan klarifikasi apakah Prabowo pernah mendapat kewarga-negaraan Yordania saat pencalonan pilpres 2014. Isu itu tidak meledak pada waktu itu, tetapi akan menjadi bom saat Pilpres 2019 nanti dimana Prabowo masih menjadi calon kuat untuk menahan langkah Jokowi.
Lihat saja, tiba-tiba berita lama di munculkan lagi saat situasi sedang tidak berpihak pada Jokowi. Dan akhirnya isu dwi negara Prabowo yang dulu tidak seksi, sekarang menjadi hot melotot kembali. Selain sebagai benteng untuk mengalihkan isu, juga sebagai kartu truf yang akan dikeluarkan pada saat yang tepat nanti.

Jadi ketika dwi warga negara Prabowo terbukti, berarti bukan hanya Archandra yang stateless atau tidak punya negara karena ia sudah melepas kewarga-negaraan AS dan gugur juga kewarga-negaraannya, tetapi juga Prabowo.

Kalau terbukti gugur, maka Prabowo seperti Archandra harus memulai kembali proses menjadi warga negara Indonesia dan itu membutuhkan waktu 5 tahun. Kartu itu bisa saja tidak dibuka sekarang, meskipun kalau dibuka sekarang tidak cukup waktu bagi Prabowo untuk melakukan naturalisasi.

Perang itu memang tidak seperti minum secangkir kopi. Ia berupa strategi-strategi mengorbankan bidak supaya raja selamat, sekaligus mengancam posisi lawan supaya langkahnya terkunci.


So, mari kita nikmati perang pintar ini bersama-sama. Jokowi memang pecatur handal, tetapi lawannya juga tidak bisa diremehkan. Dalam perang ini tidak berarti yang kuat adalah pemenang, tetapi yang pintarlah yang mampu menguasai keadaan. Seruput? Mareeee.