Rabu, 14 September 2016

Angan Panjang Itu Narkotika yang Berbahaya

Narkotika
Bahayanya Angan-angan
Ketika masih aktif di dunia keuangan, saya selalu menemukan kasus yang saya namakan "mimpi indah SBLC".

SBLC iatau Standby Letter of credit itu sejenis jaminan dari bank penerbit. Rumitllah penjelasan keuangannya dan tidak menarik jika dijelaskan secara teknis.

Tetapi satu hal yang sama, yaitu perilaku pemegang surat itu...
Si pemegang surat yang biasanya berisi potensi dana dengan bahasa puluhan sampa ratusan miliar itu, benar-benar menghipnotis siapapun pemegangnya, tidak terbatas mulai dari orang awam sampai yang paham keuangan. Hipnotis yang menjadikan manusia seperti "pecandu narkoba" karena sibuk dengan angan-angan panjangnya.

Dan selalu begitu

Mereka menjanjikan hal-hal besar dengan asumsi, "jika ini cair nanti..". Terjebak dalam mimpi indah berkepanjangan dan akhirnya meremehkan pekerjaan di depan mata yang -bagi mereka- nilainya menjadi sangat kecil dibandingkan apa yang akan mereka terima nanti.

Akhirnya yang terjadi biaya operasional mereka membengkak karena sibuk lobbi dari hotel ke hotel, gaya hidup meningkat supaya bisa dipercaya orang sedangkan pendapatan jauh berkurang karena terlupakan.

Dan dari banyak kasus, mereka pada akhirnya jatuh miskin

Bahkan baru saja saya ditelpon seseorang yang masih membicarakan "kertas" yang dipegangnya, padahal itu sudah 3-4 tahun lalu dan sampai sekarang belum ada wujud dananya yang dia terima. Persis seperti orang kecanduan narkoba taraf akut yang sulit disembuhkan...

Apa poinnya?

Bahwa angan-angan panjang itu sangat mematikan. Membunuh perlahan-lahan ekonomi sebuah keluarga, menjadikan seseorang sombong karena menolak rejeki yang bisa dikerjakan dan terkadang kesombongan itu berdampak pada perilaku yang menyebalkan.

Uang belum ditangan saja sudah menyebalkan, apalagi kalau sudah..

Dan -biasanya- orang-orang instan ini mudah ditipu orang lain. Mereka berani keluar biaya berapa saja, bahkan sampai menggadaikan rumah tinggal, untuk menyokong gaya hidupnya yang sudah naik duluan dan kepada orang yang terlihat bonafid yang menjanjikan bisa membantu mencairkan dana.

Dalam kasus yang sama, angan panjang ini menimpa orang-orang awam yang mencoba bermain proyek besar, mereka yang sudah sibuk menghitung-hitung warisan sampai mereka yang dijanjikan suatu jabatan.

Kondisi mereka sebenarnya menyedihkan bagi yang akal sehatnya masih berjalan. Akhirnya mereka dijauhi karena orang bosan mendengar hal muluk yang selalu diceritakan dan berakhir dengan situasi yang selalu dramatis ketika kesulitan, bombastis ketika kesusahan dan selalu minta dikasihani ketika terlihat hutang.

Pada akhirnya sifat egois seseorang muncul baik ketika ia senang maupun ketika susah, tidak perduli orang lain juga susah yang penting harus simpati ketika ia sedang susah.

Semua manusia pernah berada dalam kebodohan. Tetapi orang paling bodoh adalah mereka yang tidak pernah menyadari kebodohannya.

“Angan-angan itu merusak perbuatan dan menghabiskan umur. Angan-angan itu seperti fatamorgana, menipu yang melihatnya dan mengkhianati yang berharap kepadanya.

Dan berhati-hatilah dengan bergantung kepada angan-angan, karena itu hanyalah dagangan orang-orang yang dungu". (Imam Ali as)


Nasihat Imam Ali selalu menyatu ketika dipadukan dengan secangkir kopi...