Rabu, 21 September 2016

BACOT LAWAN DENGAN BACOT

Rizal Ramli
Bacot VS Bacot
Saya sebenarnya tidak tertarik membahas didukungnya Ahok oleh PDI, karena hal itu sudah bisa ditebak sejak Bambang DH dicopot.

Sebagai catatan, Bambang DH ini mantan walikota Surabaya dan sempat menjadi plt Ketua DPD PDIP. Bambang DH lah arsitek di PDIP yang ingin partainya mencalonkan Risma dengan dalih menumbangkan Ahok.

Kenapa Risma harus ke Jakarta? Karena Bambang DH ingin supaya Wakil Risma di Surabaya, sahabatnya, naik menjadi Walikota.

Bambang DH juga arsitek koalisi kekeluargaan hanya supaya Ahok tumbang. Coba cek di youtube yel-yel "Ahok pasti tumbang" yang diserukan beberapa orang PDIP, yang bocor dan menjadi blunder besar bagi Bambang. Bu Mega dikabarkan marah besar karena video itu tersebar kemana-mana.

Jadi ketika akhirnya Bambang dicopot, maka sudah bisa dipastikan bahwa PDIP akan mendukung Ahok. Bukan karena PDIP suka dengan Ahok, tapi karena mereka tidak punya pilihan kuat. Sudah jaring kemana-mana kayak nelayan, sudah berbagai macam survey mereka lakukan, tetap saja nama Ahok muncul di atas.

Yang saya tertarik sebenarnya adalah bagaimana perjalanan seorang Ahok sempat membelah dua PDIP.

Saya dulu pernah menulis, bahwa pengumpulan 1 juta KTP urtuk Ahok sebenarnya bukan karena Ahok benar-benar ingin menjadi calon independen. Tetapi itu adalah bagian curi start kampanye Ahok yang halus sekalian memainkan shock terapy kepada banyak partai, terutama PDIP, bahwa ia harus diperhitungkan.

Ahok perlu bermain begitu supaya ia tidak mudah disetir nantinya. Bayangkan kalau Ahok harus mengemis-ngemis supaya jadi calon partai, bisa kacau ketika dia jadi Gubernur nanti harus mau menuruti kata partai, termasuk memainkan anggaran. Bukan itu sifat Ahok...

Ahok itu seorang petarung yang berani menaikkan taruhan setinggi-tingginya. Kalau Jokowi biasa saya analogikan seorang pecatur, Ahok ini pemain poker yang handal. Ia berani memainkan kartunya dengan gertakan-gertakan di meja, meski jika ia salah perhitungan, ia akan kalah besar. Terbukti ia menang.

Sebenarnya tanpa PDIP pun, Ahok sudah resmi menjadi calon ketika Hanura, Nasdem dan Golkar sudah berada di belakangnya dengan lebih dari 22 kursi seperti yang disyaratkan KPU. Dan dari sekian banyak partai, hanya PDIP lah yang punya kemampuan untuk memilih calon sendiri karena mereka mengantungi 28 kursi.

Bergabungnya PDIP bisa dibilang sebagai takluknya partai itu dengan permainan kartu Ahok. PDIP boleh pegang kartu bagus, tapi Ahok lebih bagus lagi. PDIP terus disudutkan sampai di hari terakhir pendaftaran mereka harus meletakkan kartunya dan mengakui keunggulan Ahok, menjadi pengusungnya atau kehilangan banyak suara ke depannya.

Sebuah kerugian besar yang tidak akan sanggup ditanggung PDIP.

Nah dengan bergabungnya PDIP, maka posisi Ahok semakin kuat dengan total 54 kursi.

Yang menarik juga melihat posisi lawan-lawannya..

Lawan Ahok harus bergabung semua untuk melawannya, sebab jika terpencar mereka akan kalah total. Gerindra, PPP, Demokrat, PKS masih punya potensi 50 kursi jika bergabung bersama ditambah dengan partai gurem spt PAN yang hanya punya 2 kursi.

Saran saya untuk lawan Ahok, jangan Sandiaga Uno dimajukan karena dia kartu mati, terlalu mudah dijatuhkan. Track-recordnya bisa jadi bumerang.

Coba bawa Rizal Ramli ke ring, bisa rame lagi panggung, karena bacotnya Ahok dan RR sama gedenya. Mereka bisa saling memanaskan suhu Jakarta yang beberapa minggu ini adem karena hujan.
Bacot vs bacot, jangan bacot vs santun...

Dengan adanya RR, maka lawan Ahok akan semakin tangguh posisi maennya, tidak lagi bersandar pada isu pemimpin kafir. Dah ga laku zaman sekarang...

Ayo dong, jadikan Jakarta sebagai pertarungan kelas berat, bukan pertarungan kelas bulu... apalagi bulu ketek mang kojan yang jarang disiram.

Pertanyaannya, maukah RR maju? Jangan-jangan diancam pak Luhut untuk diam ditempat lagi..
Seruput dulu ah....