Minggu, 18 September 2016

Dengkul Pak Amin Rais

Kalau melihat Amien Rais ini, saya suka senyum dikulum. Pak Amin sejatinya kebalikan dari Ruhut Sitompul. Kalau bang Ruhut bisa melihat siapa pemenang, pak Amin ini spesialis berada pada posisi yang selalu kalah.

Sial buat PAN memang, yang tidak bisa berkembang baik karena hanya mengandalkan seorang Amin Rais sebagai motornya. Mana motornya suaranya doang yang besar dan memekakkan telinga, tapi jalannya cuman 20 km/jam.

Sekarang saja PAN cuman punya 2 kursi di DPRD DKI, tapi seolah-olah punya dua puluhan. Muter-muter bergerak kemana-mana dari koalisi kekeluargaan sampai mengerahkan "umat Islam" untuk melawan Ahok. Entah apa yang dituju, wong PAN milih pemimpin saja suaranya jauh dari cukup.

Strategi politik pak Amin ini sebenarnya sudah ketinggalan zaman. Beliau seperti ingin kembali ke masa lalu dimana ia diingat sebagai "lokomotif reformasi" karena melawan Soeharto. Ia masih menganggap, siapapun yang duduk di pemerintahan -yang tidak didukungnya- adalah rezim yang harus dilawan. Oposisi selalu benar.

Karena itu gerakannya untuk "melawan Ahok" sebenarnya hanyalah nostalgia pribadi waktu melawan rezim Soeharto. Kocaknya, banyak juga yang mau diajak untuk memenuhi nostalgia pak Amin.

Ya mungkin karena ada juga yang sama, ingin bernostalgia.

Seperti Hidayat Nur Wahid, yang satu era dengan pak Amin. Ibarat musik, mereka tumbuh di masa penyanyi Endang S Taurina berjaya, produksi JK Records yang sudah gak jelas masih ada atau tidak perusahaannya. Masa kaset masih harus di rewind dengan sebatang pensil.

Sekarang beliau bisa saja bicara mau membuat 8 ribu posko. Tapi coba liat dua minggu lagi, mungkin sudah berubah jadi 4 ribu. Penyakit lupa memang suka menyerang mereka yang sudah berusia lanjut, sama seperti lupanya beliau ketika bernazar jalan mau jalan kaki Jogja - Jakarta kalau Jokowi menang pilpres.

Yang muda-muda biasanya suka mengingatkan. Seperti Giman yang akhirnya jalan kaki sekedar untuk mengingatkan pak Amin dari penyakit lupanya. PAN juga jengah ketika Giman menagih janji kepada pak Amin, " Itu guyon, man.. guyon.. maklumlah.."

Tapi satu hal yang saya suka dari pak Amin adalah semangatnya di masa tua. Di usianya yang ke 72, beliau masih berkobar2. Sebenarnya bagus untuk kesehatan beliau, karena politik itu olahraga otak juga untuk menghindari pikun dan stroke.

Karena itu, anggap saja kita olahraga sama-sama dengan pak Amin dan berbaris di belakangnya sambil diiringi lagu Senam Kesegaran Jasmani, 'Tuk wak, tuk wak... wes tuwuk, wak.."

Ingat pak Amin jadi inget almarhum Gus Dur. " Saya jadi Presiden ini modal dengkul. Itu juga dengkulnya Amien Rais.."


Kasian dengkulnya, pak.. Mending seruput kopi dengan saya sambil cerita-cerita masa lalu bapak, yuk...