Sabtu, 03 September 2016

JAKARTA, SEPTEMBER 2016


Arti Hidup
Cita-cita
"Pa, aku mau jadi dokter aja.."

Sebaris kalimat di kotak pesanku muncul. Itu dari anakku yang sebentar lagi kuliah. Ia sedang dalam masa berada pada simpang jalan, ingin kemana ia berjalan?
Aku terdiam sejenak. Kuhirup nafas panjang dan kubakar sebatang rokok yang tersisa. Kopi masih ada. Sudah waktunya kubalas pesannya.

"Sayang, senangnya papa kamu mau jadi dokter. Itu cita-cita yang mulia. Sama seperti cita-cita ketika kamu mau jadi ahli hukum, jadi wakil rakyat bahkan jadi pemuka agama.
Tapi tahukah kamu, nak?

Menjadi dokter itu berarti kamu siap mengabdi kepada sesama manusia. Dokter itu bukan nilai dari sebuah status sosial, bukan juga sebuah peluang atau kesempatan. Menjadi dokter itu berarti kamu sudah siap mengemban sebuah amanat, pengabdian panjang untuk berfungsi kepada sesama manusia.

Dokter adalah profesi akhirat, bukan dunia. Itu adalah jalan langsung menuju surga, jika kamu memahaminya. Tetapi itu juga jalan penuh ujian, ketika engkau tidak paham dengannya.
Engkau akan dibalur dengan pujian, kehormatan, godaan kekayaan yang setahap demi setahap akan menggilas habis niat awalmu semula yaitu menolong sesama manusia.

Pahami dulu keberadaannya, sebelum kamu masuk ke teknisnya. Kamu akan berada di medan perang antara perilakumu kelak yang akan menjadikanmu hewan atau tetap sebagai manusia. Sadar tentang itu saja, sudah merupakan perjuangan yang sangat berat.

Tuhan akan mengujimu dengan mendatangkan si miskin dan si kaya, lalu Ia menanti bagaimana sikapmu terhadap mereka?

Tuhan akan mengujimu dengan mereka yang membutuhkan pertolongan dan mereka yang mengangkatmu dengan kehormatan, lalu Ia menunggu apa yang bisa kamu lakukan terhadapnya?

Tapi apapun yang ingin kamu lakukan, lakukanlah. Biar waktu dan peristiwa yang akan membentuk dirimu disana. Karena tidak ada yang terbentuk secara mudah, semua harus berjalan sesuai kodratnya. Semakin keras engkau ditempa, seharusnya semakin terlihat bentuk dirimu secara nyata.. "

Aku menghembuskan nafas panjang dan kulihat rokokku sudah terbakar separuh tanpa sedikitpun kuhisap.

Ternyata melepas seorang anak ke medan perang itu sungguh berat. Kuseruput kopiku sampai tandas, sudah waktunya aku harus berjuang melepaskan keterikatanku padanya...

"Teruslah berjalan, jangan pernah ragu terhadap apa yang kamu citakan.

Dan jangan lupa, ketika kamu kembali di simpang jalan, tidak tahu kemana arah harus bersikap, dan kamu terduduk lelah menangis karena bimbang.. Ingatlah aku, ayahmu.
Kan kuberikan nasihat Imam Ali sebagai pegangan, tempat papa berpegang selama ini supaya selamat di kehidupan.

Papa sayang padamu, nak.. Doaku untukmu selalu.. "

Kukirimkan pesan padanya. Belum terbaca. Ah, baru kuingat kopiku sudah tandas sedangkan hujan di luar semakin deras...