Sabtu, 03 September 2016

KEDEWASAAN UMAT KRISTEN

SARA
Al Kitab Buat Bungkus Tempe
Salah satu unsur yang menyelamatkan situasi di NKRI dari perpecahan adalah kedewasaan umat beragama yang dicap minoritas di Indonesia..

Salah satunya adalah umat Kristiani...

Entah sudah berapa kali mereka di provokasi untuk diadu dengan melecehkan simbol-simbol mereka, mulai dari bungkus tempe dari sobekan Alkitab sampai sandal bergambar Yesus dan bunda Maria.
Sayangnya, konspirasi untuk membuat umat Kristen "naik darah" seperti membentur tembok yang keras. Mereka menyikapi pelecehan itu dengan gaya yang berbeda, bahwa itu bukan pelecehan tetapi bagian dari mengabarkan.

Apakah mereka tidak marah ketika simbol-simbol itu dilecehkan?

Tentu marah, saya yakin itu. Marah itu menandakan seseorang itu masih sehat dan mempunyai emosi. Hanya saja, mereka mampu mengalirkan emosinya ke dalam bentuk kasih, sebagaimana tertuang dalam alkitab mereka, "bila engkau ditampar pipi kananmu, berikanlah pipi kirimu.."

Mereka dengan sangat dewasa menyikapi pelecehan itu dengan bahasa-bahasa yang gembira, jauh dari kemarahan. Malah mereka mampu membalik pelecehan itu sebagai bagian dari mengabarkan keimanan mereka, menguatkan kepercayaan mereka dan -pada kasus bungkus tempe dari sobekan Alkitab- bersyukur bahwa firman Tuhan berfungsi untuk membantu penjual tempe dalam bentuk bungkusan.

Sungguh sebuah pembelajaran yang menarik bagi umat Islam yang suka marah-marah dan selalu tersinggung dalam setiap kesempatan seperti wanita ketika sedang datang bulan.

Meskipun saya tidak bilang bahwa itu semua umat Kristen, tapi mayoritas dari mereka di media sosial selalu menyejukkan jawabannya.

Dan saya suka senyum-senyum sendiri membacanya, meski kadang kurang asik karena kok ya datar-datar saja, beda ma komen-komen di setiap postingan saya banyak yang meledak-ledak seperti letusan gunung Toba.

Hormat saya yang tinggi kepada mereka yang dewasa dalam beragama. Yang tidak membungkus dirinya dengan baju-baju keagamaan yang ketat seperti alay pergi ke diskotik, yang merendah ketika terus di provokasi dan melapangkan dada ketika terzolimi.

Apa yang dilakukan umat Kristen di Indonesia, senada dengan apa yang dilakukan umat Islam diwakili oleh kyai-kyai toleran dari NU yang dengan ringan melangkahkan kakinya ke gereja sekedar untuk menyapa dan memperkenalkan diri, meski dirinya dicaci maki oleh saudara seimannya.

Nilai seorang manusia adalah ketinggian ahlaknya.

Berlomba-lomba merendahkan hati dan meyakini bahwa "mereka yang bukan saudaramu dalam iman adalah saudaramu dalam kemanusiaan" haruslah menjadi pondasi bahwa kita ini ada di negara yang meyakini satu nusa, satu bangsa, satu bahasa tetapi tidak satu agama..


Nah, kapan kita bisa duduk dan minum kopi sama-sama?