Jumat, 16 September 2016

Ketika Hidupmu Begitu Berat

Kehidupan
Kehidupan
"Terus aku harus bagaimana”?

Temanku mengeluh didepanku. Ia terlilit hutang yang buatnya begitu besar. Ia bercerita panjang. Cerita yang sama dari waktu ke waktu tanpa ada perubahan.

Terkadang aku berfikir, bahwa banyak orang sebenarnya menceritakan masalahnya ke orang lain hanya untuk mendapat simpati, bukan untuk mendapat solusi. Ia hanya butuh pendengar bukan pemberi jalan keluar.

Dan jujur, aku muak dengan semua itu meski tidak kutampakkan. Energi negatifnya selalu ingin ia paksakan untuk mempengaruhi, dan secara otomatis akalku menolak.

"Yang harus kamu pahami, aku ini bukan keranjang sampah.. " Kataku yang membuatnya terhenyak.
Mungkin tidak pernah ada orang yang berkata begini secara langsung di depannya. Ia terbiasa mendapat orang yang selalu prihatin dengan masalahnya dan memujanya ketika ia ada. Ia lumpuh oleh segala bentuk pemujaan terhadap dirinya.

Dan ketika ia jatuh, ia selalu mencari simpati dengan mengasihani dirinya sendiri. Hanya berputar disitu saja, seperti seekor anjing yang sibuk mengejar ekornya.

Kuseruput kopiku dan kuresapi dengan nikmat. Sudah saatnya memberinya pelajaran baru dan aku tidak perduli apakah ia menerima atau tidak. Aku hanya menyampaikan dan semua tergantung dari usahanya.

"Bicaralah padaku jika ingin mendapat solusi, bukan untuk mendapat simpati. Karena simpati hanya untuk orang manja. Kalau kamu siap, sini kuberikan jalan keluar.. "

Kulihat ia mendengarkan, gertakanku berhasil rupanya.

"Kamu selama ini berhutang hanya untuk menutupi hutang. Terus begitu sehingga menjadi kebiasaan. Kamu tidak pernah mencoba menurunkan gaya hidupmu karena gengsi, takut diukur orang.

Kamu ini seperti kapal bocor dimana-mana yang dengan cepat tenggelam. Kamu hanya menambal kebocoran itu tanpa pernah berusaha memperbaikinya.

Dengan hutang baru untuk menambal hutang lama, sebenarnya kamu malah membuat lubang-lubang baru. Tidak lama lagi ekonomimu karam.."

Aku mengambil sebatang rokok dan mulai membakarnya. Betapa mahalnya menjadi orang yang merdeka.

"Kamu boleh berhutang tapi gunakan untuk membangun sumber pendapatan. Jadikan hutang itu produktif, bukan konsumtif. Bagaimana kamu tidak tenggelam, jika pengeluaranmu segunung tetapi pendapatanmu sepanci?"

Kali ini omonganku mendapat perhatiannya. Ia sekarang lebih butuh solusi daripada simpati.
"Bagaimana caranya"?

Lalu kami berdiskusi panjang tentang membuang semua beban cicilan yang memberatkan dengan menjual asset-aset yang ada. Gaya hidupnya pasti menurun jauh, tapi itu jauh lebih baik daripada mempertahankannya dengan dada yang sesak.

Hutang itu memang bisa membuat seseorang menjadi sangat hina karena perlakuannya yang salah.
Aku memberinya banyak opsi sesuai dengan apa yang ia punya. Dan pada akhirnya, sebelum pulang ia menjabat tanganku seperti berterima-kasih. Wajahnya menjadi cerah sekarang. Ada harapan baru dan semangat yang dulu hilang. Aku berhasil menularkan energi positif pada dirinya.

Semua memang tergantung kita, tergantung dimana kita menempatkan sudut pandang dan seberapa kuat kemauan untuk berubah. Tanpa itu, doa sehari semalam pun tidak akan pernah merubah keadaan.

Aku sendirian sekarang dengan secangkir kopi di depanku yang sudah tinggal ampasnya. Tersenyum mengingat diriku sekian tahun lalu pada kebodohan yang sama. Kebodohan yang terus berulang-ulang.

Teringat dulu ketika temanku berkata yang menamparku sekuat tenaga supaya bangun dari tidur panjangku.

"Tuhan itu maha penyayang, apapun permintaanmu yang sesuai kadar dirimu, pasti dikabulkan. Masalahnya ada di kamu. Kamu tidak pernah berusaha memahami-Nya, karena sibuk mengasihani dirimu.. "

Sudah malam, saatnya pulang...