Minggu, 25 September 2016

Setangkai Bunga Bangkai

Pemerintahan
Karikatur Pejabat
Dua tahun saya menjadi konsultan ketika membangun sebuah media di dinas pendidikan. Jadi saya sangat tahu bagaimana mental sebagian besar birokrat kita. Malas, merasa berkuasa, otaknya hanya uang saja dan sulit berkompetisi dengan baik tanpa menjilat atasan. Mereka seperti vespa tua yang starternya diinjak seribu kali, tapi suaranya doang yang keras untuk selanjutnya mesin mati.
 
Awalnya saya santun dengan harapan bisa mengubah mental. Sebuah cita-cita yang baik meski sangat naif. Mereka sudah terlalu berkarat, susah menerima masukan dan asal bapak senang.

Makin kesini malah saya yang kalah, stres karena tidak punya kuasa untuk memutasi apalagi memecat mereka. Ketika saya berbicara pada atasan, ternyata sama saja hanya beda jabatan.
 
Jadi saya sangat paham kenapa Ahok ngamuk. Saya paham sekali kenapa bu Risma ribut. Andai saya punya kuasa seperti mereka, tentu akan saya lakukan. Mereka seperti keledai tua yang harus terus menerus dicambuk. Bukan seperti orang swasta yang cukup diberi harapan di depannya, lari seperti setan ga pake kancut.
 
Saya juga paham kenapa akhirnya lebih banyak pemimpin yang apatis. Mereka awalnya bercita baik tapi ditengah perjalanan mereka miris. Belum lagi didatangi oleh mereka yang mengaku wakil rakyat tapi kerjanya meringis, minta uang saku dengan tampang minta diiris.

Santun buat birokrat bukan berarti sopan. Mereka mengartikannya sebagai orang lembek yang mudah ditekan. Dengarkan saja kata-katanya, sesudah itu abaikan. Masuk telinga kiri, keluar lewat lubang hidung sebelah kanan.

Tidak mudah memang memimpin sebuah birokrasi. Apalagi lembaga yang sudah puluhan tahun terkontaminasi. Atas bawah samping belakang semua korupsi. Kalau ga kuat mental, suap bisa diartikan rejeki.

Akhirnya saya gak tahan dan keluar. Tidak bisa nurani saya mengiyakan, ketika harus menanda-tangani lembaran-lembaran yang kata mereka untuk laporan pertanggung-jawaban. Kerja tidak ada, tapi bahasanya tercantum anggaran.

Saya masih waras dan tidak ingin menjadi manusia tanpa identitas. Hidup doang tapi akal terbatas. Lebih baik saya nongkrong di warung kopi. Bertemu orang-orang kasar tapi hatinya putih. Disana terlalu banyak munafik berbaju rapih. Jidatnya doang hitam, tapi kalau liat duit giginya memutih.

Seruput dulu ah.. abaikan saja jangan dimasukin hati... Kalau gak berkenan, harap "sabar dan maklumi"..