Rabu, 07 September 2016

Status Cinta

Agama
Hakikat Agama
Seorang teman bertanya, "kenapa saya tidak pernah menulis status tentang cinta?".

Saya senang membaca pertanyaannya sekaligus sedih. "Bukankah apa yang saya tuliskan selalu berbicara tetang cinta?".

Saya cinta dengan agama saya Islam, sehingga saya tidak rela agama ini dirusak oleh pikiran-pikiran dan tafsiran-tafsiran dangkal oleh mereka yang seperti Zombie, di doktrin untuk tidak menggunakan akal hanya iman. Akhirnya "iman" yang dipahami mereka melenceng jauh dari apa yang sudah digariskan oleh pembawa nilai-nilai itu sendiri, Nabi Muhammad SAW.

Saya cinta dengan negeri saya, sehingga saya selalu berbicara persatuan kepada siapapun. Saya membongkar borok-borok rencana kaum radikal untuk membuat bangsa ini terpecah dengan kebanggaan yang tinggi akan golongan mereka, sehingga akalnya melemah.

Saya cinta kepada para pemimpin negeri ini yang sudah berusaha keluar dari zona nyaman selama ini melalui negosiasi dengan mafia, maling anggaran, tukang suap dan para penyuka mie instan. Saya tahu perjuangan mereka tidak mudah untuk membawa negeri para bedebah ini ke arah yang lebih baik, karena melawan bangsa sendiri jauh lebih sulit daripada angkat senjata melawan bangsa lain.

Saya cinta kepada perjalanan hidup ini karena ternyata begitu banyak mutiara di dalamnya yang tersebar, hanya banyak orang tidak mengerti bahwa itu mutiara. Terlalu banyak orang yang mengira bahwa mutiara itu harta, padahal mutiara terindah dari semua itu adalah ilmu pengetahuan tentang Tuhan.

"Kenapa tidak menulis tentang cinta antar pasangan?".

Ah, itu biarlah selimut aja yang tahu apa yang saya lakukan. Ntar kalo saya cerita tentang kegagahan saya di ranjang, pada merasa tertekan dan on clinic akan sibuk menerima pelayanan.

Ngopi ajah.. kopi juga cinta, apalagi kalau harganya cuman tiga rebuan.