Minggu, 18 September 2016

SURAT UNTUK KPI & STASIUN TELEVISI

Pon JABAR
Cabang Renang

Jakarta, September 2016
Kepada yang tertayang,
Komisi Penyiaran Indonesia
dan stasiun-stasiun televisi di Indonesia.
Dengan hormat,

Saya baru saja melihat seseorang memposting gambar perenang wanita di PON Jabar yang diambil dr cuplikan di salah satu stasiun TV, dengan tubuh penuh blur sehingga yang tampak hanya kepalanya saja.

Sungguh indah sekali tubuhnya, penuh kotak2 coklat sehingga tidak terlihat mana badan dan mana tangan. Saya membayangkan orang yang menonton perlombaan renang itu, melihat kotak2 coklat bergerak seperti ee*sensor* di kali mengambang. Pasti dia bingung, ini PON atau suasana Kampung Pulo zaman Fauzi Bowo?

Saya suka kesyar'ian yang disuguhkan, menunjukkan bahwa kita sukses sebagai negara kopian timur tengah..*elus2 jenggot yang 3 lembar*

Seharusnya memang begitulah. Blur semua yang berbau maksiat, yang akan meruntuhkan akidah kita. Kalau perlu, waktu ada tayangan di peternakan dan ada orang yang sedang memerah susu sapi, blur kan.. meski itu sapi, tapi susu kan bisa menaikkan tegangan ? Blur semuanya, jangan ada ampun.
Nah sebagai gantinya, kita efektifkan tayangan2 berilmu seperti sinetron2 yang mengajak pemirsa untuk berfikir tentang kehidupan sebenarnya.

Tayangkan rumah2 dengan pilar2 besar, anak sekolah yang belajar dengan bawa mobil mewah, intrik keluarga yang ga pernah selesai, remaja yang di sekolah kerjaannya berebut perempuan dan airmata yang terkuras diatas sajadah karena lemah dan teraniaya.

Ajarkan kepada pemirsa, itulah hidup. Realita untuk memperkuat iman. Tayangan yang seperti itu yang harus didukung, kalau perlu serinya sampai tujuh yang dulu tokohnya mati trus hidup lagi.
Atau ajak pemirsa bermimpi dengan festival dangdut2an, lawak2an, kuis2an atau apa sajalah yang penting mereka jangan berfikir terlalu dalam. Jangan pernah televisi kita menayangkan model National Geographic, History, BBC chanmel yang buat orang capek berfikir. Jangan.

Selain blur gambar, aktifkan mode sensor untuk beberapa kalimat seperti Ta*sensor*wondo, Eddy si*sensor*tonga, te*sensor*bengek dan sebagainya. Perbanyak bunyi titttttt.. ahhh, tit juga harus disensor karena jorok, pake suara pret aja..

Sebagai contoh, "Hei kamu, baji*prett*, kamu pikir dia pela*preeeet*... Awas kamu ya, akan kuha*preeet* sampai kamu mamp*preeet*..."
Saya akhiri surat ini dengan rasa terimakasih tak terhingga. Jangan perdulikan mereka yang protes, semoga mereka semua mendapat hidayah. Kapan2 kita minum secangkir kopi bersama.
Wassalam,

Denny Sire*preeeet*