Rabu, 19 Oktober 2016

Kepingan Yang Salah

Puzzle
Puzzle
"Hidup itu seperti menyusun kepingan-kepingan puzzle..."
Kami sedang duduk bersama di sebuah warung kopi dengan tahu isi sebagai teman sore hari.

Berbicara tentang hidup dengannya sungguh mengasyikkan. Ia punya cara pandang berbeda dalam menyikapi sesuatu. Sudut pandang yang berbeda dengan yang diambil manusia kebanyakan.
"Hidup itu seperti menyusun kepingan-kepingan puzzle. Kita mendapat satu keping dalam setiap peristiwa yang kita alami. Kepingan itu yang dinamakan makna.
 
Makna itu kita susun dengan makna2 lain yang sudah tersusun sebelumnya.. Kita membentuk gambar diri kita dari apa yang kita lakukan..
 
Terkadang kepingan makna itu tersusun dengan benar dan kita lanjutkan dengan menyusun keping baru dari peristiwa baru yang kita alami. Peristiwa yang terbentuk yang berkaitan dengan peristiwa sebelumnya..
Tetapi sering juga akal kita buntu pada satu titik. Kenapa semua tidak berjalan dengan baik ? Kenapa semua tidak sesuai dengan yang kita harapkan? Itu pertanyaan2 yang sering muncul di kepala dan membuat kita menjadi gelisah.."
 
Temanku mengambil kopinya dan menyesapnya. Mendung tampak menghitam di langit. Rasanya mau hujan deras. Tahu isi ini enak juga..
 
"Ketika semua tidak berjalan dengan baik, ketika kepingan itu tidak memberikan gambaran yang kita inginkan, kita biasanya terduduk diam. Me-rekonstruksi kembali apa yang pernah kita lakukan yang menjadikan kita seperti sekarang.." Ia melanjutkan pembicaraannya.
 
"Akhirnya kita bongkar lagi kepingan yang tersusun. Terkadang kita bongkar semua, mulai dari awal lagi. Tapi lebih banyak kita bongkar sebagian ketika kita tahu, di titik inilah kita salah menyusun kepingan..
Begitulah terus hidup kita, menyusun, membongkar, susun lagi, bongkar lagi, sampai pada akhirnya kita menemukan gambar yang tepat apa dan siapa diri kita sebenarnya..."
 
Aku merenung sejenak mendengarkan kalimat2nya. Kuangkat kopiku dan bertanya..
"Lalu bagaimana supaya kita tidak harus membongkar semua kepingan dari awal ? Melakukan semua dari awal lagi itu melelahkan.. "
 
Dia tersenyum. Proses hidupnya membuatnya mempunyai kunci jawaban.
"Banyak dari kita yang sudah menentukan gambar apa yang kita inginkan nanti, baru menyusun kepingan2. Kita menggambar keinginan kita dengan penuh nafsu. Kita ingin jadi sesuatu, meski sesuatu itu tidak sesuai dengan kadar kita sebenarnya.
 
Nafsu yang membuat kita salah menyusun kepingan. Sehingga pada titik tertentu, kepingan2 itu ternyata sama sekali tidak membentuk gambar. Macet. Berantakan. Kita mengeluh dan terus memaksa menyusun kepingan baru dari kepingan yang berantakan itu. Yang terjadi semakin berantakan, semakin kita tenggelam, terlilit masalah besar..."
 
Dia menghabiskan kopinya dan sudah saatnya pulang sebelum hujan menahan kami disana.
"Susunlah kepingmu bukan berdasarkan apa yang kamu inginkan. Susunlah kepinganmu karena memang kamu harus menautkannya dengan kepingan yang ada.
 
Gambar yang ada dalam benakmu, belum tentu sesuai dengan gambar yang akan terbentuk dari kepingan yang kamu susun. Harus sabar daripada semua salah dan kamu harus membongkar lagi semua dari awal.."
 
"Apa poinnya dari semua itu ?" Tanyaku belum mendapat gambaran yang utuh dari semua yang ia katakan.
"Semua rencanamu tidak lebih baik dari rencana Tuhan... Jangan jadi manusia yang berencana, lalu berdoa minta Tuhan mengabulkanNya. Berjalanlah dulu dan minta Tuhan menjagamu dari nafsu yang akan menyesatkamu di perjalanan... Itulah sebaik2nya rencana yang kamu butuhkan.."
 
Aku terdiam, merenungi semua kesalahan akibat kesombongan bahwa rencanaku-lah yang terbaik. Sudah saatnya aku bongkar semua kepingan yang tersusun dari sudut pandang yang salah...