Rabu, 26 Oktober 2016

Negara Gagap

Buta Politik
Buta Politik
Salah satu ciri dari masyarakat di sebuah negara berkembang adalah penyakit gagap. Negara berkembang seperti Indonesia ini, mengalami kegagapan di segala bidang. Gagap teknologi, gagap beragama sampai gagap berdemokrasi.

Tidak siap menerima pengaruh dari luar, kita menjadi begitu hormat terhadap mereka yang membawa pengaruh ke dalam. Ada yang Islam ke arab-araban, ada juga yang Kristen keIsrael-israelan dan (mungkin) Hindu yang keIndia-indiaan.

Gagap di agama ini menular ke segala bidang termasuk konsep ukuran. Yang dijadikan ukuran mayoritas dan minoritas berdasarkan agama. Kenapa bukan konsep mayoritas dan minoritas diarahkan ke pendidikan misalnya?.

Seperti kata seorang teman, seandainya ukuran itu diarahkan ke pendidikan maka lebih aman, misalnya daerah A mayoritas bodoh. Tapi yang namanya gagap, mana mau dibilang bodoh. Mending berantem. 

Gagap agama ini -di negara kita- berkembang menjadi gagap demokrasi. Tidak siap menerima perbedaan dalam hal ras dan agama, maka keluarlah ayat-ayat sebagai patokan bernegara, padahal sudah jelas negara kita mempunyai pondasi konstitusi.

Ada yang lucu ketika saya di tag oleh seseorang tentang pandangan seorang ustad yang dikenal di mazhab Syiah. Sang ustad ini berbicara tentang "pemimpin non muslim" dengan menghadirkan pandangan salah seorang ulama marja di Iran, bahwa pemimpin non muslim tidak diperkenankan memimpin dalam hal sekecil apapun.

Dan dengan enaknya, sang ustad ini membawa pandangan ulama marja ini ke Indonesia berkaitan pilkada DKI dengan alasan "cocok". Padahal sang ulama tidak berbicara tentang Indonesia, apalagi pilkada DKI. Apa urusannya Iran yang negara berdasarkan agama dengan Indonesia yang demokrasi, apalagi pada ajang pilkada?.

Bahkan di Syiah pun -yang dikenal berfikiran logis- bisa gagap juga ketika bicara demokrasi, sehingga maen cocoklogi apa yang terjadi di Iran disambungkan ke Indonesia. Kalau bahasa puzzle, kepingannya gak sinkron.

Tapi mau bagaimana lagi? Kita terima sajalah kegagapan ini sebagai salah satu kekurangan terbesar kita. Seharusnya dalam demokrasi yang matang, kita sudah harus berada di area perang gagasan. Bukan lagi ditarik ke arah ras dan agama.
 
Nah, pola-pola kampanye kita masih gaya "orba jadoel". Ada yang marathon, ada yang dangdutan di panggung, ada yang bawa-bawa pendeta ataupun ulama. Tidak ada yang berubah. Ketika ada seorang kandidat yang membongkar model kampanye jadoel itu, maka ia diserang habis-habisan dengan gaya jadoel juga, melakukan tekanan dengan banyak massa. Intinya, harus ada kegiatan yang menghadirkan massa. Biar dipotret, ambil angle yang baik dan jual ke pendonor. "Nih gua punya massa, wani piro?".

Masalahnya di negara maju yang pola berfikirnya mapan, si gagap ini sering dijadikan percobaan. Mereka memainkan kegagapan-kegagapan ini demi kepentingan mereka. "Biarlah negara tetangga yang gagap itu hancur karena bertikai di negara sendiri, biar sibuk sendiri. Kalau mereka sibuk, kan negara kita yang maju ini bisa fokus mengembangkan ekonomi".

Saya ini disuruh berhenti merokok sebenarnya, tapi karena gagap ya gak berhenti-berhenti, malah nyari-nyari pembenaran. "Mana ada orang yang merokok sambil nulis dan minum kopi mati?".

Se..ser..serr..seruupputt dd..dulluu aaahh.. #asligagap#