Sabtu, 22 Oktober 2016

Selamat Hari Santri, NU

"Kenapa pemerintah diam saja menghadapi radikalis berbaju agama itu?"
Seorang teman bertanya di inbox. Ah, rasanya saya pernah bahas ini dulu, dan kebetulan tepat setahun hari santri 22 Oktober, kita buka lagi strategi perang yang jenius ini.

Untuk memahami strategi ini, kita kembali dulu ke Suriah. Kesalahan utama Bashar Assad dalam memerangi radikalisme agama di Suriah adalah dengan melakukan tekanan kepada mereka. Dan Bashar masuk jebakan, ketika ia melakukan tekanan maka kaum radikalis itu bermain strategi playing victim. Mereka teriak ke internasional yang semakin memperbuas keadaan di Suriah.

Pemerintah Indonesia bermain cantik. Mereka menggandeng NU sebagai partner untuk memainkan soft war, perang lunak. Yang radikal bukannya di hajar. Pemerintah menyusup ke dalam tubuh mereka dan terus mengangkat keradikalan mereka ke permukaan, tetapi tetap mengontrolnya supaya tidak terjadi chaos.
Modelnya mirip ketika pemerintah memecah partai2 yang dulu tergabung dalam satu koalisi menjadi beberapa bagian dan masing2 bertarung di dalamnya.
 
Ketika kaum radikalis semakin tampak radikal, NU kemudian memunculkan konsep Islam Nusantara, sebagai tandingan. Islam Nusantara yang sejuk adalah antitesa dari Islam radikal.
Dengan begitu, masyarakat -berbagai agama- akan mampu melihat mana yang sejuk dan mana yang ekstrim. Yang ekstrim, akan mendapat sanksi sosial dari masyarakat yang perlahan2 melek situasi dan tidak menggeneralisasi bahwa radikal adalah Islam.

Sesudah itu, lahirlah hari santri.
Kelahiran hari santri diperkuat dengan dikirimnya ribuan santri ke daerah perbatasan untuk melakukan "pembersihan" otak dari virus radikal yang sudah menyebar. Para santri mengenalkan konsep Islam toleran, membangun pesantren2 dan masjid2 untuk mengimbangi tumbuhnya virus radikal.
 
Sebagai catatan, perbatasan adalah kantung pertama tumbuhnya radikalisme. Suriah juga awal konfliknya dari perbatasan, yang kemudian melebar dan pelan2 mengepung pusat.
 
Inilah perang strategi diam atau silent operation yang jenius. Pemerintah dan NU bukannya memasang badan untuk menghadapi mereka, malah semakin dekat dengan masuk ke dalam tubuh organisasi2 radikal itu. "Keep your friend close, but your enemy closer " Kata Don Vito Corleone dalam The Godfather.
 
Dan sekarang, menghadapi dekatnya dis-integrasi bangsa yang dilakukan kelompok radikal dengan melakukan demo dimana2 menunggangi "penistaan agama", para santri berperang dengan mengangkat tema 1 miliar shalawat.
1 miliar shalawat dilakukan oleh ribuan orang di 10 ribu titik dan memenuhi trending topik di twitter. Inilah cara perang NU menunjukkan pada kaum radikalis berbaju agama bahwa "NU ada dan siap sedia".
 
Selamat hari santri, NU...
Kalian-lah garda terdepan penjaga NKRI dari musuh2 di dalam tubuh negara tercinta ini. Saya angkat secangkir kopi untuk kalian semua.
Salute...