Kamis, 20 Oktober 2016

SEPATU PAKDE

Jokowi
Jokowi
Saya jatuh hati padanya ketika ia diwawancarai sebuah stasiun tv saat menjadi walikota Solo. Dan ketika ia bertarung di pilkada DKI, saya tambah jatuh hati padanya.

Ada sesuatu yang berbeda yang saya lihat darinya, yaitu ketidak-pura2annya dalam bersikap. Ia mentertawakan dirinya sendiri yang cungkring, medok, dan tidak ganteng. Dan yang terutama, ia berusaha tampil apa adanya dia.

Mungkin saya muak dengan model para pejabat lama yang feodal, mengandalkan kekayaan dan biasanya modelnya diwariskan ke anaknya yang berlaku borjuis. Mungkin karena kemuakan itu saya bersikap subjektif kepada beliau.

Orang yang saya suka ini adalah antitesa dari apa yang selama ini saya lihat. Saya bisa saja salah..
Ketika masuk pilpres, saya berharap besar dia masuk pada bursa dan dipilih oleh PDIP. Mungkin ini juga kemuakan saya karena biasanya PDIP milih si ibu itu lagi, dan saya pastikan jika si ibu maju lagi partai itu pasti kalah.

Setiap hari di jalan, saya selalu menunggu pengumuman bahwa beliau yang dicalonkan. Dan ketika baliho besar dipasang dengan wajahnya, saya tersenyum dan berjanji akan membelanya.

Perang di media sosial adalah bagian dari memori yang tidak terlupakan. Dan ketika saat pemilihan, saya yang kebetulan sedang berada di kota yang berbeda, berlari mencari tempat pencoblosan. Hal yang tidak pernah saya lakukan seumur hidup. Saya bahkan menjaga sampai perhitungan selesai.

Bahkan ketika sudah menjabat, saya masih perang dengan menepis keraguan bahwa beliau adalah boneka partai yang lamban dalam mengambil keputusan.

Tulisan saya berjudul "Dia orang solo" menjawab banyak hal kenapa beliau seperti orang yang tidak tegas. Memang begitu karakternya, dingin dan mematikan, tidak meledak.

Saya selalu memulai tulisan dengan analogi bermain catur ketika beliau sedang menata strateginya. Ia saya ibaratkan "kuda" dalam bidak catur, bukan raja ataupun menteri. Kuda adalah bidak yang bebas, tidak bisa dihalangi oleh bidak apapun ketika melangkah, bisa melompat dan ketika kedua kuda berpasangan, mereka akan mengunci gerak lawan.

Sudah 2 tahun ya pakde, saya mengamati setiap langkahmu. Saya sudah tidak subjektif lagi bahwa saya tidak salah memilihmu. Kesederhanaanmu bukan sesuatu yang dibuat tetapi memang datang dari kebiasaanmu.

Engkau biasa makan di warteg, biasa memegang payung sendiri bahkan membeli sepatu yang murah bukanlah pencitraan, tetapi karena memang terbiasa begitu. Engkau lebih memandang fungsi daripada gengsi.
Jejak langkahmu besar dan banyak membuat sejarah yang ditinggalkan para pemimpin lama. Hadiah terbesarmu kepada rakyat Indonesia adalah dengan menjadikan Papua sebagai "anak ibu Pertiwi" kembali, bukan lagi sebagai itik buruk rupa. Dibutuhkan tapi selalu dibuang ke tempat sampah.

2 tahun bersamamu, pakde... Dan kita masih akan bersama selama 8 tahun lagi. InsyaAllah...
Kelak akan kutuangkan secangkir kopi untukmu...