Sabtu, 08 Oktober 2016

Tafsir Al Maidah 51, Kotak Pandora yang Terbuka

Beberapa teman mengabarkan bahwa peristiwa surat Al Maidah 51, akan menjatuhkan Ahok. Dan saya sangat tidak setuju.

Saya jadi teringat pertanyaan seorang teman dulu sekitar 5 tahun yang lalu, "Kenapa lu capek-capek menyadarkan mereka yang gagal paham? Sekali gagal tetap saja gagal, tidak bisa diubah..Gak capek apa dimaki mereka?".
 
Temanku benar, bahwa yang gagal tetaplah gagal. Membuat mereka paham adalah keniscayaan. Tapi temanku salah berfikir bahwa target saya adalah mereka yang gagal paham.
 
Target status saya yang suka menyentil kedangkalan berfikir kaum fanatik agama sebenarnya adalah mereka yang sedang belajar memahami agama dan tidak pernah berkomentar, lebih senang melihat situasi karena akalnya sedang berproses melihat sesuatu secara jernih.
 
Saya menamakan mereka "silent reader", pembaca di kesunyian...
Dan jumlah mereka jauh lebih banyak dari yang aktif di komen. Mereka sedang mencari kebenaran, bukan pembenaran. Sedangkan yang gagal saya anggap sebagai jembatan saja, karena kebenaran itu harus ada ukurannya yaitu kesalahan.
 
Ukuran kesalahan adalah kebencian, yang terlontar dari caci maki di komen. Dan semakin mereka mencaci semakin saya senang, karena bisa membuktikan bahwa jika yang mereka bawa adalah kebenaran, tidak mungkin disampaikan dengan kebencian. Benar harus disampaikan dengan cara yang benar.
 
Teori saya terbukti benar, karena semakin lama semakin tumbuh mereka2 yang berfikir lebih terbuka dengan wawasan luas dan jauh dari kebencian. Karena naluri baik mereka yang secara otomatis menolak ada nada kebencian.

Begitu juga yang terjadi pada peristiwa Ahok dan surat Al Maidah 51. Tanpa sadar, ketika seseorang itu mencoba memfitnah dengan cara menafsirkan yang salah terhadap perkataan Ahok, dia sebenarnya sedang membuka pikiran banyak orang..
 
Mereka itu adalah silent reader, yang masih dalam kebimbangan benarkah surat Al Maidah 51 itu larangan memilih pemimpin daerah non muslim?
 
Mereka butuh penjelasan secara detail siapakah yang dimaksud "pemimpin" di ayat tersebut? Supaya mereka jangan salah menafsirkan...
 
Dan ketika masalah surat itu terbentang lebar, mereka mendapat banyak jawaban dari ulama-ulama cerdas beserta dalil-dalil termasuk menteri agama, bahwa tidak ada korelasinya antara pemimpin di surat Al Maidah 51 dengan pilkada...
 
Dan mereka pasti sangat puas, bahwa mereka tidak salah dan melanggar perintah Tuhan. Mereka itu ber-KTP DKI Jakarta, calon pemilih potensial.
Sedangkan yang teriak-teriak dengan mulut mencong dan bisul besar di pantat, "Ahok darahnya halal.", "Bunuh saja!" adalah orang bekasi, depok sampe Kalimantan.. Bukan penduduk DKI dan tidak punya hak memilih.

Peristiwa ini membuka kotak pandora yang selama ini tertutup rapat.
Si pemfitnah tanpa dia sadar sudah mengajari banyak orang menjadi lebih cerdas tentang tafsiran surat Al Maidah 51 dari sisi yang berbeda dengan sisi yang selama ini digemborkan yaitu "tidak boleh memilih pemimpin kafir".

Begitulah cara Tuhan mengajarkan hamba2Nya, melalui sebuah peristiwa. Jadi teringat lagi ada pertanyaan pada waktu berbicara di acara book fair. "Bagaimana bang Denny memandang seorang Jonru ?"
 
Saya menjawab, "Beliau adalah guru terbaik saya. Tanpa adanya beliau, saya tidak bisa mengukur kebenaran, karena ukuran kebenaran adalah adanya kesalahan".
 "Jadi Jonru adalah sumber kesalahan??".
 
Mendadak suasana hening, hanya suara jangkrik yang berisik mengisi malam.