Senin, 17 Oktober 2016

Ulama dan "Ulama"

Ulama
Ustad Gadungan
Kanjeng Dimas Taat, Guntur pribumi dan Aa Gatot, dulunya dianggap sebagai ulama oleh banyak orang. Para pecintanya begitu fanatik kepada mereka. Saking fanatiknya, mereka suka melakukan hal-hal yang tidak rasional. Dan ketidak-rasionalan ini dimanfaatkan betul oleh para "pengaku ulama" ini untuk memuaskan nafsu pribadinya.

Sampai ketika Tuhan membuka aib para penjual ayat-ayat Tuhan dengan kesalahannya sendiri. Tebaklah, apa yang terjadi pada mereka yang dulu begitu fanatik kepada para "pengaku ulama" ini?.

Yah -seperti biasa- memaki orang yang selama ini mereka percayai, mereka ikuti dan mereka merasa tertipu karenanya. Lucu memang, para pengikut itu yang menyerahkan diri mereka untuk percaya tetapi mereka juga yang akhirnya marah kepada orang yg dulu mereka percayai.

Anehnya, banyak yang tidak mau belajar pada kasus-kasus sederhana ini. Mereka tetap memelihara kefanatisan dalam dirinya kepada seseorang atau sesuatu.

Ini memang ciri khas bangsa yang sedang mencari jati diri.
Seperti seorang remaja tanggung yang sedang mencari panutan kemudian mengidolakan panutannya itu. Mengikuti apa yang dikatakan panutannya, meninggikannya sampai memajang posternya bahkan pada taraf ekstrim berperilaku seperti panutannya.
"Lalu bagaimana cara memilah mana ulama yang harus diikuti dan mana yang tidak?".
Dengan meilhat apa yang masuk ke dalam tubuhnya. Ketika itu haram, maka secara otomatis akan membentuk perilakunya dan perkataannya. Haram itu luas sifatnya, bukan dari apa yang dia makan tapi bagaimana ia mendapatkan.
Ketika seseorang menjual ayat Tuhan untuk urusan dunianya, ayat itu sendiri yang akan melaknatnya. Aku selalu teringat perkataan temanku itu. Dan kuingat lagi ketika pada masa ini bermunculan begitu banyak mereka yang mengaku ulama tapi terbungkus kemegahan dunia.

Secangkir kopi menemani pagiku kali ini. Secangkir kopi yang menyadarkan supaya tetap waras di dunia yang semakin gila.