Jumat, 04 November 2016

Gaya Bertarung Pakde

Jokowi
Jokowi
Siapapun pasti merasakan aura ketegangan pada demo 4 November ini. Ketegangan itu bukan tanpa dasar, ketika masuknya laporan intelijen bahwa demo ini sarat penunggang gelap diluar siapa yang membiayai demo itu sendiri.

Selama ini demo-demo besar dari buruh maupun dari ormas Islam belum pernah membuat tanda siaga 1 dari berbagai elemen, mulai pemerintah, aparat maupun ormas besar Islam seperti NU. Para pendemo tentu tidak merasakan ini karena fokus mereka hanya pada satu titik saja yaitu Ahok. Mata dunia internasional semua mengarah ke titik ini. Pemerintah diuji terhadap situasi ini.

Mungkin tidak banyak informasi yang tersebar bahwa pada akhir Oktober ada bom motor yang berdaya rendah di Sleman. Tidak ada korban jiwa, tapi pelaku diduga profesional karena nomor rangka motornya sudah dihapus sehingga sulit dilacak jejaknya.
 
Ada juga tanggal 1 kemarin bom paku yang meledak ketika diinjak seekor kerbau di Bantul. Bom itu seperti dibuang, disingkirkan. Ada kemungkinan, intelijen sudah mengetahui rencana mereka dan memburu mereka sebelum sempat beraksi di 4 November.Kebayang kan kalau bom-bom itu meledak di kerumunan demonstran? Pasti pemerintah yang disalahkan.

Kita harus memberi apresiasi yang tinggi kepada pihak intelijen, kepolisian dan TNI yang sudah melakukan cara persuasif tetapi tetap tegas. Model penanganan terorisme di Indonesia sudah pasti akan menjadi acuan dunia internasional bahwa "memukul" tidak selalu lebih baik hasilnya. Indonesia menunjukkan cara "merangkul" yang lebih elegan.
Dan kepada pakde Jokowi yang tidak gentar dengan tekanan ormas radikal dan turun ke lapangan melakukan lobi-lobi yang aduhai, secangkir kopi saya harus angkat setinggi-tingginya.
 
Salam hormat dari saya..