Jumat, 18 November 2016

Gerakan Kehabisan Isu

Demo
Kapolri
Strategi pemerintah men-tersangkakan Ahok, jelas terlihat sangat efektif. Keputusan ini benar-benar memecah isu penistaan yang kemarin diteriakkan dengan sangat keras. Dengan menjadikan Ahok tersangka, maka sebenarnya sudah tidak ada lagi isu yang bisa digiring untuk menggoyang pemerintahan.

Karena itu, gelombang berikutnya yang tadinya sudah terprogram 25 November dengan agenda mengadili pemerintah karena melakukan intervensi, menjadi redup. Terjadi guncangan internal di dalam barisan, antara pendana dan penerima dana.
 
Tarik menarik apakah akan melakukan gerakan berikutnya, menjadi pembicaraan serius di dalam. Tentu saja sebagai investor tetap, pendana yang sudah kehilangan uang besar tidak ingin bertaruh dengan isu yang ada. Terlalu riskan.

Tetapi masih ada yang menginginkan terjadinya gerakan, terutama mereka yang didanai. Manisnya uang yang beredar kemarin dan hanya terbagi pada satu dua kelompok saja, membuat kelompok lain yang cuman dapet upilnya tidak puas. Mereka memaksa harus ada gerakan kembali untuk mendesak Ahok harus ditahan.
 
Isu Ahok harus ditahan tentu jadi mengada-ngada. Karena penahanan tersangka harus memenuhi beberapa syarat, diantaranya tersangka tidak kooperatif dan ada barang bukti yang berpotensi dihilangkan. Sedangkan Ahok sangat kooperatif, ia datang sendiri ke kepolisian dan tidak ada barang bukti yang berpotensi dihilangkan. Juga kemungkinan Ahok lari sangat kecil, karena ia calon Gubernur.

Akhirnya sesudah nego sana sini, debat sana sini, tercapailah kesepakatan bahwa demo harus diundur jadi tanggal 2 Desember.

Karena isunya sudah kurang seksi, maka dana turunpun menjadi lebih kecil, tapi lumayanlah untuk tahun baruan. Hanya untuk memobilisasi massa seperti kemarin dengan transportasi pesawat PP, tentu sulit bisa terjadi. Masak harus naik bus sumber kencono yang supirnya mati segan hidup tak sudi? Atau Antar Lintas Sumatera yang sampenya baru 3 hari?.
Meski begitu sebenarnya gerakan 2 Desember ini lebih kepada "menyelesaikan pekerjaan" saja. Pihak yang didanai akan berkilah bahwa mereka sudah melakukan "tugas besarnya". Fokus dibebankan kepada tim sukses pendana, masak melawan tersangka aja kalah? Malu dong, ah.
 
Jadi sudah tidak perlu khawatir lagi akan gerakan dengan riak kecil ini. Mereka yang kemaren ikut demo karena tidak tahu apa-apa, akan berpikiran "sudah tersangka, ya sudah tunggu aja..". Sedangkan yang kemaren demo karena ada upah, mulai menuntut nambah, "kemaren segini, masak nanti cuman dapet selembar ajah ?".

Bingung memang kalau niat awal sudah tidak baik. Jadi harus selalu jungkir balik memikirkan strategi yang lama-lama jadi tidak masuk akal, karena harus di ada-adakan.
 
Mending di rumah ngopi ajah.. Demo berikut sama sekali bukan tentang "terhinanya Islam", tapi karena dimana ada uang disitu ada barang...
 
Its all about money.. its all about dam dam daradamdam...
Serumfuuuuutttth..