Rabu, 30 November 2016

MELINDUNGI PARA ULAMA

Ulama
Pada waktu diskusi buku di rumah Lembang kemarin, ada bahasan menarik. Seperti pernah kita bicarakan di status, bahwa salah satu pola yang dijalankan untuk menjadikan Indonesia seperti Suriah adalah dengan pengkotakan ulama.

Dibalik video parodi "Jangan ditiru.." yang sempat viral beberapa waktu lalu, saya sebenarnya ingin menyampaikan pesan yang dalam terhadap pernyataan "Sesalah2nya ulama adalah sebaik-baiknya kita..".

Pernyataan itu tidak salah, yang harusnya ditanyakan adalah ULAMA yang mana? Karena di dalam Islam sendiri ulama dikenal berada pada 2 kategori, yaitu ulama pewaris Nabi dan ulama su' atau ulama jahat.

Nah, yang berbahaya adalah klaim "Ulama pewaris Nabi" pada ulama-ulama yang sebenarnya sama sekali tidak mencerminkan perilaku Nabi. Ulama yang ketika berbicara sangat kasar, kehidupannya sangat duniawi, yang selalu memprovokasi dan jauh dari ketentraman. Orang-orang muda yang seperti ini yang malah dijadikan "ulama" dan diikuti semua perkataannya.

Sedangkan ulama yang sebenarnya, malah dicaci maki ketika mengatakan sesuatu yang benar menurut ilmu agama yang dimilikinya.
 
Ini sudah masuk pada sinyal merah, tanda bahaya. Peristiwa pencacian terhadap ulama karismatik NU seperti KH Mustofa Bisri (Gus Mus) dan KH Maemun Zubair (Gus Maemun ) oleh orang-orang yang bahkan ilmu agamanya masih secetek got mampet, itu sudah menjadi alarm yang keras.

Beruntung NU sigap dan langsung mengamankan para pencaci dalam bentuk menegur sampai membawanya bertemu kepada para sepuh itu untuk minta maaf. Ini sangat penting, karena ada pesan keras yang harus disampaikan kepada khalayak luas "Ulama mana yang selayaknya diikuti..".

Perlindungan terhadap para ulama menjadi bagian penting dari sebuah perang proxy sesudah beberapa waktu lalu kita melihat KH Said Agil Siradj dan KH Quraish Shihab sempat difitnah sebagai Syiah dan dicaci maki pula.
 
Disinilah saya sangat menghargai NU yang tanggap akan situasi berbahaya ini. Bahkan Banser sudah menyiapkan 112 ribu personel yang siap mengamankan situasi ini berdasarkan UU ITE baik itu di darat maupun di dunia maya.
 
Hal yang -maaf- justru belum saya temui di Muhammadiyah ketika ulama mereka Buya Syafii Maarif di hina-hina. Kemana Muhammadiyah? Kenapa banyak petinggi di dalamnya tidak melindungi beliau?.

Memang perlu diwaspadai situasi ini karena ini bukan kecelakaan, tetapi memang sudah dirancang jauh sebelumnya. Aura kebencian pada ulama yang benar dan kefanatikan pada ulama yang salah, sudah dibangun sejak lama salah satunya melalui jaringan televisi.
 
Perhatikan siaran agama di televisi-televisi nasional. Benarkah siaran agama itu benar-benar murni dari ide produser acara stasiun itu sendiri? Ataukah ada yang membeli slot-slot acara supaya pembeli bisa mengatur dan mengarahkan, siapa ustad yang ditampilkan dan bagaimana dakwah diberikan?

Sebagai contoh acara pada waktu itu Khazanah di Trans TV yang mengatakan Maulid Nabi itu bidah.
Pernyataan ini sempat menimbulkan gejolak dan mengarahkan pandang Islam sesuai versi pembeli slot acaranya. Meskipun ada permintaan maaf dari pihak televisi, coba fikirkan.. benarkah semua itu hanya kesalahan belaka atau memang bagian dari sebuah rancangan untuk mengarahkan persepsi pemirsa yang rata-rata awam terhadap agama Islam?

Sungguh Indonesia ini darurat sertifikasi ustad dan ulama. Jangan serahkan lagi gelar ini kepada masyarakat, karena masyarakat kita masih belum paham mengklasifikasikan mana yang benar-benar ulama.
Semoga NU menjadi yang terdepan dalam menyikapi ini demi keutuhan negara kita. Jangan sampai ulama-ulama yang benar di negeri ini bernasib seperti Syaikh Ramadhan Al Bouthi di Suriah, yang harus dibungkam dengan bom bunuh diri hanya karena berkata tentang persatuan...
 
Mari kita angkat cangkir kopi ini..