Senin, 14 November 2016

MOMEN TERINDAH

Sahabat
Foto Soetan Bathoegana
"Doakan aku ya, bang.."
Sebuah pesan mampir pada tengah malam. Pesan yang mengharukan. Aku tahu, temanku sedang berjuang melawan kanker yang sudah mencapai stadium 4. Dan itu adalah proses yang menyakitkan yang harus ia terima setiap waktu.

Aku tahu ia sedang berada pada puncak rasa sakitnya dan membuatnya harus masuk rumah sakit untuk kesekian kalinya. Tanpa terasa mataku berlinang air mata sembari berpikir derita yang ia hadapi, yang aku tidak mungkin sanggup, sekalipun hanya untuk membayangkannya.

Perlahan kuhisap sebatang rokok sebagai teman setiaku malam ini, sebagai pengobat pedih. Tidak lupa secangkir kopi di sisiku sebagai sahabat sejati.

Kuraih telepon genggamku dan kuketikkan sesuatu yang membesarkan hatiku. "Hatiku", bukan hatinya.
"Sobat, seandainya kamu tahu bahwa kamu sedang dalam proses dimuliakan karena sakitmu. Tidak semua manusia paham bagaimana kasihnya Tuhan berlaku. Betapa Tuhan sayang padamu dengan memberikan penderitaan sekian lama untuk membersihkan dosa-dosamu". 
Rasanya tak sanggup aku menambahkan kalimat untuk menyempurnakan tulisanku. Tapi aku harus memberitakan kabar gembira ini kepadanya.

"Seandainya manusia tahu bahwa setiap kesulitan, sakit dan kemiskinan adalah bagian dari proses pencucian dosa yang telah mereka buat di dunia, pasti mereka menyambut gembira proses itu, bukan malah bersedih apalagi meratap.

Karena kebahagiaan apa lagi yang lebih indah ketimbang mendapat kesempatan untuk mengikis dosa yang sudah berkarat ini? Apa yang kamu dapat sekarang akan meringankan semua siksamu di alam kubur nanti.

Sampai pada satu waktu, di mana kamu berada dalam persidangan Tuhan, kamu yang pernah mengalami proses pencucian dosa yang panjang akan menghadap Nya dalam kondisi yang bersih dan suci.

Lalu, siapakah yang pantas didoakan?
"Aku yang kotor dan tidak mendapat kesempatan dikikis dosanya atau kamu yang sedang disucikan dari semua dosamu?".

Kukirim pesan itu dan kulihat tanda, ia menerimanya. Aku tahu ia pasti mengira aku sedang menghiburnya. Aku tidak sedang mengiburnya, aku sedang meratapi nasibku, semoga Tuhan melimpahkan kemuliaan atasnya dan atas kita semua.

Sejenak aku terdiam, tidak lama kemudian sebuah pesan menghampiri ponselku. Darinya, dari sahabatku yang sedang dimuliakan Tuhan.

"Terima kasih. Baru kali ini aku punya pandangan berbeda tentang sakitku. Kamu membuat aku menikmati apa yang kualami sekarang. Terimakasih. Mudah-mudahan aku bisa membalas semuanya".

Kali ini, airmataku yang menggenang awalnya dan kutahan dalam dada, deras mengalir dan jatuh dalam bentuk tetesan kebahagiaan. Aku dengan perasaan bahagia juga membalas pesannya.

"Doakan aku, sobatku yang sedang dimuliakan. Doamu adalah doa yang paling mujarab saat ini.." Kutatap tanah merah di hadapanku. Aku mengenang percakapan itu seperti aku mengenang wajahnya yang tampak berseri-seri saat ia terbalut kain putih. Wajahnya seperti memberikan pesan kepadaku, "Aku mendoakanmu, bang.."

Langit mendung saat ini dan aku beranjak pulang meninggalkannya sendirian.
- sebuah catatan dalam buku yang belum terbit "Bukan Manusia Angka" -