Rabu, 30 November 2016

SECANGKIR KOPI SASETAN

Akhirnya terpenuhi juga rasa penasaran untuk ngopi bersama Ahok kemaren pagi. Diantara riuhnya suara yang datang memenuhi rumah Lembang, mata saya mencari-cari karakter Ahok yang asli. Kemana dia pergi? Ah, penasaran ingin kugali lagi.

Dan aku merasa berhasil, melihat daya ledaknya yang masih tinggi. Auranya mendominasi sehingga siapapun yang berada didekatnya terdiam dan berusaha mendengarkan.

Aku hanyut dalam pemikiran, menikmati semua kata-kata yang dilontarkan dan berusaha tersadar, bahwa Ahok sebenarnya sudah bukan milik Jakarta lagi. Ia sudah menjadi sesuatu yang lebih besar dari dirinya sendiri.

Ahok -mungkin- tanpa ia sadari, sudah menjadi representasi etnis, ras dan agama yang selama ini terpinggirkan. Ia menjadi wakil dari suara-suara yang selama ini merasa minoritas, bukan hanya dalam skala statistik saja tapi juga dalam masalah kesempatan.

Ahok menjadi paramater harapan bagi mereka yang ingin mendapat perlakuan yang sama dalam demokrasi. Ia juga sekalian ujian, mampukah kita yang selama ini berteriak keadilan menerapkannya dalam sebuah tindakan?
 
Sudah waktunya Ahok menyadari itu. Ia sudah harus berfikir lebih besar dari hanya sekedar wilayah Jakarta. Ia seharusnya sudah menyadari bahwa dirinya sekarang adalah Duta kebhinekaan. Ia seharusnya sudah mengamati bahwa banyak orang menggantungkan harapan padanya bukan hanya karena apa yang sekarang ia kerjakan, tapi seberapa bisa ia menjadi wakil yang mereka harapkan.

Dan seorang wakil tentu mempunyai standar yang jauh lebih tinggi dalam perilaku dan tindakan. Jika Ahok memahami ini, tentu ia tidak harus terdiam, yang terlihat seperti transformasi yang dipaksakan. Ketika ia memahami ini tentu ia tidak harus melawan keras dirinya sendiri tetapi berfikir ke arah yang jauh lebih luas bahwa ia punya kewajiban sebagai seorang yang lebih menenangkan, seorang yang bijak yang bukan hanya pandai berperang tetapi juga mampu membuat suasana lebih tentram.

Rangkullah semua elemen ras, etnis dan agama untuk berperang bersama, karena tidak ada yang mampu menang sendirian. Libatkan semua untuk berfikir bersama bahwa perang melawan budaya salah yang selama ini dipelihara, tidak harus selalu dengan pedang, tetapi yang lebih penting dengan ajakan.
 
Sekali-sekali duduklah dengan tenang dan dengarkan apa yang ingin mereka sampaikan. Tenang bukan diam, tetapi mengatur ritme dengan kontrol diri yang penuh penguasaan..
 
Jika sudah memahami dan mencapai level ini -saya yakin- tidak tertutup jalan untuk menjadi orang nomer 1 negeri ini suatu hari nanti. Jika bukan dirimu, setidaknya apa yang kau lakukan sekarang, bisa menjadi pondasi generasi muda nanti.

Dan jika dirimu berhasil bertransformasi dengan benar, aku sendiri yang akan datang membawakan kopi asli medan dan bukan lagi kopi sasetan. Sudah sasetan, ngutang lagi. Sungguh mengharukan...
Terimakasih sudah mengundang kami di rumahmu tadi. Salam hormat dari kami anak Medan.
Nb:
Besar kali rumah itu, sempat kupegang-pegang tadi. Teringat pulak omak yang jadi inang-inang. "Mak o mak.. mampirlah kesana.. kita jualan nanti disitu... rame kalipun.."