Jumat, 23 Desember 2016

Para Pemakan Bangkai

Uang Haram
Uang Haram
"Kamu pasti tidak mau makan makanan yang kotor kan?"
Tanya temanku ketika pagi ini kami duduk di sudut kantin sambil menikmati nasi kuning hangat yang aromanya aduhai.

"Makanan kotor itu kalau dimakan bisa membuat badan kita sakit. Namanya juga kotor, pasti disana ada banyak kuman yang kalau masuk ke dalam tubuh bisa membuat kesehatan kita turun drastis.." Ia menyuap nasi kuningnya dengan nikmat.

Aku tidak paham kemana arah pembicaraannya. Ia tersenyum dan meneruskan perkataannya. "Begitu juga harta haram. Harta haram itu seperti makanan kotor. Sedikit dan banyaknya ia ketika kita makan akan membawa penyakit.

Hanya penyakitnya sudah bukan lagi penyakit fisik, tapi penyakit jiwa. Harta haram itu seperti merubah DNA dalam tubuh manusia, yang dulu sifatnya baik menjadi separuh binatang... "

Sulit untuk kumakan nasi kuningku. Perkataan dia sungguh menohok, menyindir bahkan menampar. Aku melirik amplop yang ada ditanganku yang rencananya akan kuberikan sebagai bagian dari caraku untuk "membeli" dia supaya proyekku sukses. Hal yang selama ini menjadi bagian dari apa yang kukerjakan.

"Harta haram itu banyak modelnya. Yang paling biasa kita lakukan adalah dengan tidak menyisihkan sebagian keuntungan kita ke mereka yang membutuhkan.

Yang lain adalah dengan mengambil keuntungan dari menzolimi orang lain, seperti menjual fitnah. Dan yang paling parah adalah korupsi, merampok hak banyak orang..

Jadi kamu bisa bayangkan, ketika harta haram itu dimakan oleh anak dan istrimu juga, maka itu akan merubah DNA mereka pula. Lalu jangan salahkan Tuhan, meski kamu secara ritual ibadah hebat tetapi anakmu terjebak narkoba, coba lihat dirimu sendiri, makanan apa yang kamu berikan ke mereka ?"

Kutarik amplopku masuk kembali ke dalam tas. Semakin panas rasanya kupingku. "Itulah kenapa diriku selalu tenang. Aku tidak takut apa yang terjadi kelak pada hidupku dan keluargaku. Karena sebisa mungkin aku memberi mereka makanan dari harta yang halal.

Tuhan itu Maha Adil, tidak mungkin Ia memberiku musibah besar ketika hambaNya taat padaNya... Apa yang kamu makan, itulah yang akan tumbuh dalam dagingmu nanti.."

Sebagai pengganti rasa kikuk, kupesan kopi panas. Sudah saatnya aku mulai berfikir bagaimana caraku mendapatkan rejeki, jangan sampai apa yang kukira rejeki itu ternyata malah membuatku tidak selamat di dunia.

"Hadirkan sebab-sebab baik dalam dirimu, maka akibat-akibat baik akan menghampirimu. Hidup sebenarnya sesederhana itu.." Ia tersenyum sambil menghirup kopinya..

Teringat ada seseorang yang bertanya pada Imam Ali as. "Wahai Imam, kenapa seseorang diberi kekayaan?", Imam Ali menjawab, "Untuk membuka jati dirinya, siapa dia sebenar-benarnya..". Pagi ini -entah kenapa- kopiku pahit sekali....