Rabu, 14 Desember 2016

Surat Warna Jingga Untuk Ahok

Sidang Ahok
Ahok
Ah, akhirnya saya harus kirim surat lagi untuk ko Ahok.. Hanya kali ini agak berbeda dari yang kemarin.
 
Ko, jujur saya agak mual melihat begitu massifnya gambar-gambar yang berseliweran di timeline saya mengiringi situasi emosional waktu koko menangis di persidangan.
 
Saya sangat mengerti kegundahan koko waktu bercerita tentang keluarga. Mungkin menangis itu adalah bagian dari pelampiasan kegundahan sekian lama sesudah ditabrak kanan kiri depan belakang oleh mereka yang pada dasarnya tidak ingin koko maju ke pilgub DKI.
 
Saya jadi teringat waktu pertama kali harta saya terampas dengan kejadian yang sungguh diluar dugaan. Bingung, cemas, takut semua bercampur menjadi satu di dada. Dan akhirnya tumpah ruah karena pondasi goyah. Saya merasa menjadi orang paling menderita di dunia.
 
Dan fase itu harus saya lalui, sampai pada satu saat saya sadar, "kenapa saya harus menangis ?"
Saya teringat nasihat Imam Ali as -manusia yang saya kagumi sesudah Nabi Muhammad Saw. Beliau berkata, "Jangan menjelaskan dirimu kepada siapapun. Karena yang menyukaimu tidak butuh itu dan yang membencimu tidak mempercayai itu.."
 
Saya tersentak membaca nasihat itu dan berkata pada diri saya sendiri. "Iya, kenapa saya harus menjelaskan kepada orang lain apa kegundahan saya? Mereka mempunyai masalah sendiri dan simpati mereka belum tentu simpati yang murni. Sedangkan yang membenci saya pasti akan bersorak gembira mengetahui saya sedang susah.."

Sesudah memahami itu semua, saya berubah menjadi orang yang tidak lagi harus bercerita kepada siapapun, kecuali kepada Tuhan di waktu-waktu sepi. Dan ternyata bercerita kepada Tuhan menjadikan dada saya yang tadinya sesak menjadi lega. Ketika kelegaan itu datang, maka hikmah pun tiba. Saya menjadi mampu melihat sisi pembelajaran yang baik dari semua peristiwa.

Saya harus terlihat kuat, karena keluarga saya membutuhkan itu. Jika saya lemah, mereka juga akan lemah. Dan itu sebuah tanggung jawab yang besar, karena saya yakin seorang lelaki akan terlihat ketika ia sedang diuji oleh badai. Bukan masalah seberapa besar badainya, tetapi bagaimana cara kita menghadapinya itu yang terpenting. Dan kita akan dihargai karena itu...
 
Ko Ahok harus terlihat kuat dan tidak boleh lemah. Berapa juta warga DKI yang berharap kepadamu? Mereka membutuhkan punggung lelaki yang kekar, bukan yang terisak. Mereka membutuhkan kekuatan, bukan kelemahan. Karena jika pemimpin mereka lemah, lalu mereka harus bagaimana?

Kembalilah seperti Ahok yang biasa, yang cuek meski kali ini harus jauh lebih bijaksana. Karena kecuekanmu adalah cerita.
 
Masalah itu hanya sebentar datangnya. Jalanlah terus dengan optimis, serahkan semua pada Tuhan hasilnya. Semua itu hanya ujian untuk melatih kuda-kuda kita. Tidak usah cemaskan masa depan, itu bukan urusan kita, karena masa lalu kitalah yang seharusnya kita pikirkan.
 
Katakan kepada semua tim sukses dan para pengacara, "Jangan lagi menjual kesedihan sebagai dagangan. Cukuplah kesalahan itu menjadi catatan, bahwa yang ingin mereka lihat adalah Ahok sebenarnya. Bukan Ahok yang dijual untuk media.."
 
Akhir kata, saya senang waktu kita ngopi bersama di rumah Lembang. Kita ketawa bersama dan -akhirnya- kopi pun terhidang meski hanya sasetan..
 
Tetaplah seperti Ahok yang punya gaya dan cerita. Jabatan bukan sesuatu yang harus dipertahankan mati-matian. Nilai diri kitalah yang seharusnya menjadi ukuran.
 
Selamat berjuang, Ko Ahok... Selamat bekerja. Kapan-kapan kita minum secangkir kopi lagi sambil bercerita tentang segala hal, termasuk bagaimana seharusnya kita menjadi seorang manusia..
Seruput..