Senin, 05 Desember 2016

Umat Buih di Lautan

Umat Islam
Buih di Lautan
"Ummati.. ummati.. ummati.."
Begitulah pesan terakhir Nabi Muhammad SAW menjelang wafatnya beliau, yang artinya, "umatku, umatku, umatku..". Tampak sekali beliau berat meninggalkan dunia ini karena kecemasan terhadap umatnya.

Nabi pantas cemas karena kesucian dirinya yang membuat ia mampu melihat apa yang terjadi pada umatnya di masa depan. Bahkan kecemasan beliau itu dituangkan dalam pelbagai hadis.

Ada yang tentang orang muda pembaca Alquran dimana Alquran itu sendiri yg juga melaknatnya. Ada yang tentang megahnya masjid-masjid tapi sepi di dalamnya. Ada yang tentang munculnya ulama-ulama jahat yang akan membawa umat ke arah kegelapan.
 
Banyak lagi kengerian di akhir zaman yang membuat saya menjadi paham kenapa Nabi begitu cemas terhadap umatnya sendiri. Dan saya menjadi paham juga, bahwa yang dimaksud dengan kecemasan Nabi terhadap umatnya bukan saja karena umatnya akhirnya bermaksiat, tetapi begitu mudah digiring ke arah kepentingan hanya karena kebanggaan kelompok atau golongan.
 
Umat ini besar tetapi rapuh. Sibuk dengan kuantitas dan melupakan kualitas. Tidak mampu mengklasifikasi benar dan salah. Bahkan condong terperangkap keindahan baju para pemuka agama, sehingga lupa bahwa Nabi SAW diturunkan untuk memperbaiki ahlak manusia.
 
Ketidakmampuan umat ini untuk belajar menjadi "muslim" sebenarnya, menjadikannya terpesona oleh orang-orang yang dianggap tahu agama. Wajar jika banyak yang menyerahkan dirinya untuk ditipu mentah-mentah oleh mereka yang berbaju ulama seperti Aa Gatot, Kanjeng Dimas sampai Guntur Bumi. Ketika tahu ditipu, baru mencaci maki. Sebelumnya, memuji-muji.
 
Begitu banyak peristiwa, tapi tidak mampu mengerti. Tauhid dijadikan kebanggaan diri, padahal - seandainya mereka mengerti - iblis adalah pelaku tauhid kelas tinggi. Saking merasa dekatnya dengan Tuhan, iblis pun tidak pernah tunduk kepada Nabi Adam.

Jadi, bagaimana Nabi Muhammad SAW tidak cemas dan sedih?.
Mungkin kita harus belajar lagi apa arti "Islam" sebenarnya, apa arti "muslim" sebenarnya. Bahwa Islam dan Muslim sesungguhnya adalah pencapaian, bukan sebuah identitas yang disematkan. Islam adalah ajaran, bukan bendera kebanggaan. Jika itu dipahami dengan benar, tentu kita akan lebih banyak tafakur dan berkaca, "Benarkah kita sudah benar?".

Ketidakmampuan melakukan otokritik terhadap diri yang sudah ternilai sempurna, adalah bukti bahwa semakin akal melemah, kebanggaan diripun meninggi.
 
Sudah saatnya ngopi sambil merenungi kembali pesan sang manusia suci..
"Umatku banyak di akhir zaman, tapi mereka seperti buih di lautan.." Rasulullah SAW.